Tema “Politik dalam Kehidupan Sehari-hari” mengajak kita memandang politik tidak hanya sebatas perebutan kursi, partai, atau elite, melainkan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Politik hadir ketika mereka yang terpinggirkan menuntut kesetaraan, entah di ruang kelas, tempat kerja, lingkungan, atau bahkan dalam keluarga. Ia menyentuh persoalan nyata: ketimpangan penghasilan, pendidikan, krisis lingkungan, hingga polarisasi di media sosial.
Melalui sayembara ini, politik dipahami sebagai tindakan sehari-hari yang memperjuangkan keadilan, kesetaraan, dan pengakuan. Menulis novel pun menjadi bentuk politik: memberi ruang bagi suara yang terabaikan, membuka kenyataan yang tersembunyi, dan menggugat ketidakadilan. Diharapkan lahir karya-karya berani yang membangkitkan kesadaran politik dari keseharian.
Ketentuan
Umum
- Peserta adalah WNI, dibuktikan dengan salinan identitas diri
- Membuat pernyataan orisinalitas karya bermeterai (format sudah disediakan). Download di sini -> Surat Pernyataan Peserta Sayembara Novel
- Mengisi formulir yang sudah disediakan
- Peserta dipersilakan mengirim lebih dari 1 karya
- Naskah belum pernah dipublikasikan di media mana pun
- Naskah tidak sedang diikutkan dalam sayembara serupa
- Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar
- Naskah bukan saduran atau terjemahan
- Naskah tidak dibuat dengan bentuan AI.
- Follow akun @bentangpustaka dan @sukusastra
Khusus
- Naskah harus sesuai tema
- Mengirimkan sinopsis
- Keputusan dewan juri tidak dapat diganggu gugat
- Panjang tulisan minimal 30.000 kata, diketik pada kertas A4, font Times New Roman, ukuran 12pt.
- Naskah dan penamaan file tidak disertai dengan nama penulis. Biodata penulis ditulis di kolom yang disediakan.
- Naskah dikirim paling lambat pada 31 Desember 2025, pukul 23.59 WIB.
- Pemenang diumumkan pada Malam Penganugerahan Sayembara Novel Bentang Pustaka x Suku Sastra
Teknis Pengiriman
- Unggah Identitas diri (KTP/SIM/KTM)
- Unggah surat pernyataan orisinalitas karya (bermaterai)
- Tulis sinopsis maksimal 300 kata
- Deskripsikan menariknya karyamu
- Unggah naskah novel utuh dalam bentuk PDF
- Pengiriman karya melalui bit.ly/SayembaraNovelBPxSS
Hadiah
Naskah terbaik 1, 2, dan 3 akan diterbitkan oleh Bentang Pustaka.
Lini Masa
- Publikasi dan pengumpulan naskah: September – 31 Desember 2025
- Seleksi administrasi dan naskah: 1 Januari – 7 Februari 2026
- Penganugerahan Pemenang Sayembara: 20 Februari 2026 (estimasi, akan diberitahukan jika ada perubahan)
Dewan Juri
- Okky Madasari
- Ramayda Akmal
- Martin Suryajaya
- Muhammad Qadhafi
- Dhias Nauvaly
Tentang Tema Novel
Ketika mendengar kata “politik”, kita mungkin akan berpikir tentang partai, pemilu, atau pergolakan rezim. Politik terasa jauh dari keseharian kita. Padahal, politik tidak hanya hidup di gedung parlemen. Politik juga bisa muncul di meja makan, bangku kuliah, tempat kerja, bahkan di atas ranjang.
Meminjam pandangan Jacques Rancière, politik bisa dipahami sebagai tindakan setiap orang yang mempertanyakan ketimpangan. Politik sehari-hari mencakup tindakan orang-orang “biasa” yang mempertaruhkan kesetaraan, keadilan, dan pengakuan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Ini memungkinkan munculnya suara dari individu atau kelompok yang sebelumnya diabaikan.
Melalui tema “Politik dalam Kehidupan Sehari-hari”, sayembara ini mengajak kita melihat politik secara lebih luas, sesuai konteks masyarakat Indonesia hari ini. Kita berhadapan dengan ketimpangan penghasilan, komersialisasi lembaga pendidikan, krisis lingkungan, simpang siur sejarah, hingga ketidaksetaraan dalam hubungan personal. Tantangannya, bagaimana menghadirkan persoalan-persoalan itu dalam bentuk novel. Berikut beberapa contoh novel Indonesia yang menampilkan politik dalam kehidupan sehari-hari:
Belenggu (Armijn Pane). Kita bisa temukan “politik sehari-hari” dari kebekuan rumah tangga Tono dan Tini. Mereka terbelenggu oleh ekspektasi sosial tentang citra keluarga modern yang ideal. Mereka kemudian melakukan tindakan-tindakan yang menghancurkan citra keluarga ideal. Tini menolak menjadi “pelengkap rumah tangga” dengan memilih lebih sering keluar rumah untuk memenuhi kebutuhan estetis dan intelektual yang tak ia dapatkan di rumah. Tono, meskipun seorang dokter yang menjunjung tinggi profesionalitas, ternyata rapuh saat berhadapan dengan relasi personal. Ia mencari pelarian pada Yah, seorang penyanyi keroncong yang menghadirkan keintiman berbeda. Sedangkan Yah, dari sikap-sikap dan kebebasannya memilih, telah mengaburkan batasan kelas sosial. Dari kegamangan cinta segitiga ini, politik hadir dari sikap dan pilihan sehari-hari yang menentang tatanan ideal tentang kehidupan modern.
Gadis Pantai (Pramoedya Ananta Toer). Memperlihatkan politik sehari-hari dari pengalaman seorang gadis nelayan yang dinikahkan dengan seorang bendoro. Dalam tatanan feodal, ia seharusnya hanya patuh dan diam. Namun, ia menuntut haknya untuk dihormati sebagai istri, mengekspresikan cinta dan cemburu, bahkan menolak diperlakukan semata sebagai alat untuk melahirkan keturunan. Dari sikapnya yang sederhana tapi tegas, politik hadir sebagai perlawanan terhadap struktur feodal yang menentukan siapa boleh dicintai dan siapa hanya dipakai lalu dibuang.
Pasung Jiwa (Okky Madasari). Mengeksplorasi pencarian kebebasan individu di tengah norma sosial yang mengekang. Tokoh Sasana berhadapan dengan tekanan agama, masyarakat, dan identitas dirinya sendiri. Ia berusaha menjalani hidupnya dengan menuntut pengakuan, juga menolak batasan yang dipaksakan oleh orang lain. Politik sehari-hari muncul melalui sikapnya menentang norma dan pencarian kebebasan yang bersifat personal—perjuangan melawan struktur sosial yang membatasi pilihan hidupnya.
Tango & Sadimin (Ramayda Akmal). Politik sehari-hari terlihat dari perjalanan Nini Randa, seorang perempuan miskin yang hidup di dunia pelacuran. Ia awalnya dieksploitasi oleh Syatun Syadat, tetapi kemudian belajar memanfaatkan tubuh dan pilihannya secara lebih sadar. Hubungannya dengan Haji Misbah, seorang ulama kaya, menambah kompleksitas hidupnya, sementara dari hubungan itu lahirlah Sadimin yang dibesarkan oleh Uwa Mono. Melalui sikap, pilihan, dan strateginya bertahan hidup, Nini Randa menegaskan keberadaannya sebagai subjek yang memiliki suara, yang mengganggu batas-batas tatanan sosial, moral, dan ekonomi.
Kiat Sukses Hancur Lebur (Martin Suryajaya). Politik sehari-hari terlihat dari tokoh Anto Labil, seorang sarjana filsafat yang melawan estetika novel konvensional. Ia menulis novel eksperimental dengan memadukan narasi sudut pandang orang pertama dan struktur buku “how to”. Melalui pilihan menulis novel yang menyimpang ini, Anto Labil mempertahankan integritas ide dan kreativitasnya, sekaligus mempertanyakan norma sosial dan budaya “kesuksesan instan”. Novel ini adalah salah satu contoh yang menunjukkan kesadaran politik dalam isi maupun bentuk eksperimentalnya.
Kami berharap sayembara ini melahirkan karya-karya yang membangkitkan kesadaran politik dalam kehidupan sehari-hari. Menulis novel, dalam konteks ini, adalah tindakan estetik sekaligus politik. Dengan menulis novel, kita menyaringkan suara-suara yang terpinggirkan, membongkar kenyataan yang ditutup-tutupi, atau menggugat ketidakadilan yang dianggap wajar. Kami menantikan karya-karya yang berani melakukan itu semua.
Apa yang dimaksud “sehari-hari”?
Yang perlu dicatat pertama kali adalah bahwa “sehari-hari” di sini adalah sehari-hari para tokoh. Patokannya bukan seberapa akrab keseharian itu Anda jalani, bukan juga sehari-hari yang Anda bayangkan dekat dengan “calon pembaca” (atau sebutlah pasar, terserah). Dengan begitu, Anda sah-sah saja menuliskan cerita tentang tokoh entah siapa di daerah antah berantah pada waktu yang entah kapan. Sebutlah, kisah tokoh warga Palestina yang mudah merasa takut sebab tiap hari selalu ada saja razia—betapapun pembaca, atau Anda, tidak menjalani hari-hari di Palestina. Atau bahkan, Anda juga dipersilakan menulis kisah tentang alien, hewan-hewan, atau benda-mati sekalipun, asal Anda bisa ceritakan kemelut atau konflik yang sifatnya politis itu mereka temukan (awalnya) di kesehariannya.
Apakah harus bermuatan sejarah?
Tidak mesti. Namun, bila sejarah dimaknai dalam pengertian terluas, ia adalah hari kemarin. Jadi, selama tokoh Anda bergerak melintasi waktu, dan mengambil keputusan berdasarkan atau terdampak hidupnya oleh hari kemarin, selama itu pulalah Anda sedang merangkai kisah yang menyejarah. Kembali lagi pada “politik sehari-hari”, kami membayangkan tokoh yang bukan orang besar (bukan jenderal, bukan elit politik, bukan priayi) membawa dirinya melintasi momen politik yang di kemudian hari kita baca sebagai “sejarah”. Taruhlah, misal, cerita bagaimana preman-preman kelas teri hidup di tengah masa Petrus. Dan contoh barusan bukan berarti Anda mesti berkiblat seratus persen pada “kenyataan sejarah”. Anda bisa saja membuat semesta sejarah yang bahkan sepenuhnya berlainan dengan “kenyataan sejarah”, sepanjang itu berguna untuk tujuan penceritaan. Sekali lagi, ini sayembara novel, bukan ajakan penulisan teks sejarah. Kami berharap, betapapun Anda menginginkan “novel sejarah”, pastikan novel itu menghadirkan kisah yang memikat, bukan semata angka tahun atau nama tokoh yang disebut sepintas.
Mesti “Good Ending”? Mesti “Tone Positif”?
Kami tidak mengharapkan “kisah nabi”, tentang protagonis yang nyaris selalu benar menghadapi antagonis yang sepenuhnya bajingan terkutuk. Kami percaya, betapapun konsep baik-buruk itu tetap ada, kenyataan pastilah tidak hitam-putih begitu. Sastra, atau dalam hal ini novel, membantu kita untuk menjelajahi wilayah abu-abu. Bahwa yang baik ada buruknya dan yang buruk setidaknya bisa terpahami muasal keburukan itu. “Bagaimana kalau pembaca malah simpatik dengan tokoh jahat, jadi memaklumi kejahatan?” Percayalah, pembaca tidak sebodoh itu. Lagipula, Anda sebagai penulis pasti tahu benar, menuliskan secara komplet isi hati penjahat tidak sama dengan mempromosikan penjahat sebagai pahlawan baru yang mesti disembah. Bisa jadi, menampakkan kedalaman jiwa penjahat justru jadi jalan yang lebih kreatif untuk mencegah kemunculannya di dunia nyata. Kami berharap novel-novel yang masuk mampu menghadirkan kompleksitas moral yang demikian.
Bagaimana dengan SARA?
Nyaris mustahil menulis cerita tanpa menyinggung SARA. Menyinggung, dalam pengertian “membahas; mengulik; mempertautkan” cerita lewat lensa suku agama ras (apalagi) antargolongan. Yang kami hindari adalah kisah yang, lewat kehidupan tokoh-tokohnya atau tuturan naratornya, mempertebal stereotipe kacangan soal “suku agama ras dan antargolongan”. Seolah orang Padang mesti pelit atau cantik dan orang Jawa senantiasa diam-diam menujah dari belakang. Seolah orang komunis nyaris sinonim dengan iblis dan orang-orang bercelana cingkrang berjanggut panjang dianggap tidak lengkap tanpa niat meledakkan situs-situs kemaksiatan. Klise semacam itu bukan cuma memperpanjang riwayat ketidakadilan, melainkan juga—percayalah—hanya akan membuat cerita Anda dangkal.
Apa yang dimaksud “Paket Penerbitan senilai 50 juta”?
Valuasi nilai dari kontrak penerbitan 3 naskah pemenang yang semuanya ditanggung penerbit, mulai dari proses redaksi, cetak, distribusi, dan promosi. Valuasi tersebut berlaku untuk masing-masing naskah, bukan total dari ketiganya. Paket ini tidak dapat diuangkan.
Apakah naskah akan menggunakan sistem beli putus?
Tentu tidak. Kontrak penerbitan menggunakan sistem royalti.
Bagaimana status kepemilikan naskah yang tidak terpilih?
Naskah yang tidak terpilih tetap menjadi milik penulis sehingga bebas diterbitkan di penerbit mana pun. Bahkan, sebenarnya naskah pemenang pun tetap hak milik penulis. Hanya saja, terikat hak ekonomi penerbitannya dengan Bentang selama jangka waktu yang disepakati di kontrak nantinya.
Apakah ada juara I, II, dan III? Apakah hadiahnya berbeda?
Tidak ada juara I, II, III. Kami mencari 3 pemenang tanpa urutan, hasil seleksi dewan juri untuk diterbitkan di Bentang. Oleh karena tidak ada urutan pemenang, maka kontraprestasinya sama: paket penerbitan dengan valuasi dan penjelasan seperti yang sudah dijelaskan di poin sebelumnya.
Apa maksud “naskah tidak disertai nama penulis”?
Kami mencari naskah, mencari cerita yang orisinil dan memberi tafsiran kreatif atas tema yang kami ajukan, bukan menguber “nama penulis”. Artinya, siapapun Anda, sesedikit apapun riwayat publikasi Anda, bukanlah soal dalam sayembara ini. Yang kami nilai adalah cerita dan hanya cerita. Juri akan menilai naskah Anda tanpa nama. Blind-review.
Bagaimana dengan Kata Pengantar, Daftar Isi, dll?
Daftar isi menjadi bagian dari teks. Mudahnya, secara urut halaman begini: judul, daftar isi, naskah novel utuh. Tidak perlu ditambahkan lain-lain seperti persembahan, kata pengantar, dll. Jika nanti terpilih, tentu saja boleh ditambahkan sesuai harapan penulis.
Apa maksud “naskah belum pernah dipublikasikan”?
Naskah belum pernah diterbitkan baik dalam versi cetak maupun digital. Lain cerita bila naskah adalah pengembangan dari versi yang pernah terpublikasikan. Misal, pengembangan cerpen menjadi novel; atau naskah drama dan skrip film dialihwahanakan ke bentuk novel.
Apakah novel boleh ditulis oleh dua pengarang?
Tidak. Memang, kami mencari cerita. Namun, kami, dan juga Anda sebagai penulis, pasti mengimpikan naskah yang syukur-syukur bisa menang sayembara ini sebagai portofolio pribadi—bukan berdua atau bertiga—dan mampu menjadi catatan proses karir kepengarangan Anda pribadi—bukan karir berdua atau bertiga.
Apakah pengarang boleh menggunakan nama pena?
Boleh saja. Asal, dokumen pribadi yang dikirim mestilah otentik. Nama pena adalah urusan Anda sebagai pengarang (dan peserta sayembara, syukur-syukur pemenang) dengan publik. Sementara dokumen asli, itu berurusan dengan penyelenggara sayembara, termasuk penerbit yang kemudian akan menyangkut soal pajak-memajak. Tenang, kami menjamin kerahasiaan dokumen tersebut.
Bagaimana dengan genre novel? Bebas atau ada genre khusus?
Tidak ada genre khusus. Sudahlah cukup sayembara kami batasi dengan tema. Tidak perlu dipersempit dengan patokan genre A atau B yang sedang ramai di pasaran. Sekreatif mungkin.
Ada batasan usia?
Tidak ada.

