Kuala Barus

“Kosongkan pikiranmu,” kata Matua. Ia bersila di hadapanku. Aroma dupa silih susup keluar masuk hidung. Kaok gagak dari kejauhan merayap di udara terbawa angin laut. Gemerisik dahan pohon, daun kering berguguran, dan keheningan malam. Tak tahulah aku sudah bersila berapa lama. Kedua kakiku mulai mengeras. Tak berasa. Kaku seperti batang singkong.

“Seorang dayang Portugis akan mendatangimu. Hidungnya lancip, rambutnya coklat keemasan khas matahari pagi. Aroma dupa ini akan berangsur, berubah menjadi aroma lavender, kembang cantik negara Eropa,” sambung Matua. Ia membangun sosok yang harus kubayangkan dalam benak. Agar datang, agar singgah, agar mau berkata dan berkisah tentang negeri yang hilang ini.

Benarkah? Tak tahulah.

Mustahil kuceritakan ini pada Yap. Ia akan mencekik kerahku, menyeretku ke fakultas psikologi. Menjerat kedua tanganku dengan tambang ke bangku dan membiarkan Jane melakukan semacam asosiasi bebas, jika bukan cacian yang merdu. Apa pula itu? Sebelum terjadi, baiknya kucuri start saja. Toh, catatanku sudah rampung. Aku dan Matua hanya perlu mengklarifikasinya. Jika informasi yang kudapat selaras dan syukur dapat menambal lubang sejarah, mengapa tidak? Tapi, bila ceracau hantu Portugis itu tak masuk akal, anggap saja ini wisata spiritual. Ya, kan?

Omong-omong tentang wisata, kau tahulah, hampir tak ada yang dapat kusebut sebagai situs wisata. Baik yang konotasinya ke arah alam atau yang mendekati modern. Apa yang kau dapat dari rawa-rawa payau dan dangau-dangau yang lapuk terendam banjir saban tahun? Tanya saja Galon, 25 tahun—dan ia benar-benar bernama Galon meski ukuran tubuhnya tidak selaras dengan bentuk galon—mengantarku pada Matua sambil berseloroh, “Inilah wisata sesungguhnya, Lae.”

Benar belaka. Tak ada brosur, tak ada iklan. Bahkan menteri pun kiranya ragu. Wisata spiritual? Bah! Macam kita bukan orang modern saja. Mana mau turis bule itu bayar perahu mahal-mahal, tapi tak bisa menikmati hantu-hantu Barus ini?

“Pejamkan matamu!”

Aih, ketahuan rupanya.

Memang mesti kubayangkan perempuan Portugis itu. Semata menjaga pikiran tak lari ke mana suka. Ia mengenakan gaun serba putih (atau merah?). Rambut emasnya tergerai hingga bahu, dan ia mengenakan penjepit rambut bentuk kupu-kupu. Bulu matanya lentik dan bola matanya biru. Sementara kulitnya putih mulus seperti pualam. Gaunnya berkibas-kibas saat ia turun dari kayangan. Diiringi wangi dupa dan semilir angin, kedua kakinya yang lancip dan bersinar perlahan menapaki bumi.

Aku tahu gambaran tentang hantu cewek Portugis itu cukup klise. Seperti seorang penulis stensil menggambarkan fantasinya sendiri. Aku hanya merakitnya sejauh yang Matua bisa gambarkan. Ditambah dengan pengalaman Galon, ditambah dengan cerita Galon tentang orang-orang yang pernah bertemu dengannya. Ditambah dengan bualan-bualan Galon.

“Buka matamu, tolol.”

Tersentak, tapi aku tak mampu membuka mataku. Suara itu seperti datang dari dunia sini, dari suara yang kukenal. Tak mungkin ia penjelmaan hantu. Tak mungkin. Aku menolak percaya bahwa ia memegang kunci tentang sejarah yang hilang di Kuala Barus ini. Ia bukanlah tuan putri kamper. Dan aku –

“Atau kulaporkan pada Yap.”

“Jane? Apa pulak!”

***

Jane menyeretku ke Tugu Nol Kilometer, meninggalkan Matua dengan selembar Ir. Djuanda dan senyum menyeringai. Sepanjang jalan, bibir cewek ini tak henti berbunyi. Seperti sember knalpot rombeng dari motor bebek yang dipaksa balapan. Rapalannya setajam silet, dan sesekali air liurnya seperti bisa kobra yang menyambar mangsanya. Setengah jam kemudian ia memberiku nasi bungkus berisi rendang dengan aroma rempah yang kuat. Di sampingku, Jane berubah dari semula knalpot rongsok menjadi Suster Maria dengan lingkaran emas yang bersinar di atas kepalanya.

“Aku curiga gara-gara lapar kau berubah jadi gila,” katanya.

“Hmm,” kubalas sambil memamah pulennya nasi yang dipeluk sempurna oleh kekentalan kuah santan. Hanya ada satu jenis padi yang dengan sedikit porsi nasi kau akan merasa kenyang, yakni padi yang tumbuh di sepanjang Sumatera Barat. Bijinya besar, menjadikan nasi yang tanak ukurannya lebih tambun dan padat berisi daripada biji padi Jawa. Inilah mengapa nasi kapau sulit ditemukan di luar Sumatera.

“Aku baru saja melihat-lihat foto di rumah seorang keturunan Raja Barus,” kata Jane.

Aku mengangguk sambil mengunyah empuknya daging rendang. Parutan kelapa yang diperas mencurahkan sari pati santan, kemudian dituang ke atas wajan di mana jahe, lengkuas, serai, telah dengan sabar menanti. Lidahmu kujamin tak akan berhenti berkecipak bahkan setelah butir nasi terakhir tandas. Kini kertas nasiku pun benar-benar licin dan hanya menyisakan bulir keringat di dahiku. Hanya ada dua masakan yang tak bisa kau lawan kenikmatannya: masakan dari orang yang kau cintai, dan masakan bernama nasi padang.

“Ia tak seperti keturunan raja-raja Jawa.”

Mobil kami melewati jalan yang kadang beraspal dan lebih sering berlubang dan tentu saja berpasir dengan tonjolan batu-batu yang membuatnya seperti bisul di jalanan. Seperti kebanyakan perempuan, kedua jemari Jane menggenggam erat kemudi, membuat posisi duduk sedekat mungkin dengan setir. Tapi kuakui caranya membawa mobil sewaan ini cukup apik. Setidaknya aku tak tersedak lengkuas saat menghabiskan bungkusan nasi barusan.

Cuaca agak mendung. Dapat kulihat arak-arakan awan kelabu sedikit di atas horizon. Sore mulai mengambil tempat di semesta kecil bernama Kuala Barus. Dari cerita Matua dan Galon, hujan dan banjir adalah bagian yang tak terpisahkan dari hilangnya kebudayaan mereka. Seperti Atlantis, separuh dipercaya sebagai dongeng sementara separuh lagi dikerjakan oleh para peneliti purbakala untuk menjadikan dongeng tersebut sebagai fakta keras. Yang terakhir disebut adalah apa yang membawa Yap, Jane, dan aku ke Kuala Barus.

Khusus untuk Jane, di antara aku dan Yap, Jane adalah yang paling serius dalam hal penelitian. Aku bahkan tak percaya keberangkatannya dari Perancis belaka untuk meneliti. Yap bahkan sempat memandangnya sinis dan menganggapnya agen NGO. Setelah penelitian rampung dan data-data diterbangkan ke negaranya, ia akan kembali masa bodoh dan menganggap kami tak lebih dari jamur-jamur eksotik negara dunia ketiga. Namun setelah bersama-sama selama dua tahun, anggapan kami terkikis dengan sendirinya. Hal itu membuat wajahku dan Yap menjadi merah padam. Mengapa selalu orang asing yang peduli dengan sejarah negara ini?

“Salah satu foto itu menuntunku ke sini,” kata Jane. Kami lantas turun dari mobil. Langkah kakiku beberapa kali tersandung pasir pantai yang melingkari Tugu Nol Kilometer. Presiden telah berkunjung dan meresmikan tempat ini sebagai titik pertama penyebaran agama Islam di Nusantara. Lagi, semacam fakta keras yang telah mereka buktikan dari serpihan-serpihan dongeng, dari nisan dan makam-makam tua, tak terkecuali dari Matua dan penggalan kisah-kisah Galon. Fakta keras yang hampir sekunder.

Kami duduk di sebuah dangau yang letaknya hanya sepuluh langkah dari pagar tugu. Melepas pandang ke hamparan laut biru. Ufuknya mulai dipeluk kemuning dan kelabu langit sore. Dahulu, berabad-abad silam, mungkin Tom Pires merasakan keindahan yang sama dari sini sembari membayangkan betapa ajaibnya kayu dan pohon-pohon Barus. Dahulu dan berabad-abad silam, raja-raja Mesir tersanjung dengan keabadian wangi kapur Barus sehingga membawanya jauh-jauh menyeberangi Samudera Hindia ke dalam alam kematian mereka.

“Mendekatlah, kuberitahu sesuatu,” pinta Jane. Aku menyeret pantatku dan duduk tepat di sisinya. Hal yang pertama kali hinggap di kepalaku adalah betapa warna lengannya seperti tersepuh lembayung langit senja dengan sempurna. Helai-helai rambut emasnya yang tersapu angin laut tak jarang membelai-belai wajahku. Aku tahu ini adalah senja yang sempurna bila saja Jane adalah kekasihku. Aku tahu ini senja yang tak lebih dari ribuan senja lain oleh karena Jane tak mungkin menjadi kekasihku. Bahkan setelah kami bereinkarnasi menjadi katak sekalipun.

Kudekatkan hidungku pada layar ponselnya, ibu jarinya yang lancip itu menyentuh layar. “Coba lihat ini,” katanya. Tapi karena tak begitu jelas, kupicingkan kedua mataku dan mendorong wajahku agak lebih mendekat ke permukaan layar ponsel. Di saat yang sama ia mendekatkan ponselnya padaku. Dan terus terang hal ini seperti kelakar yang garing. Yang kulihat tak lain hanyalah pantulan diriku sendiri dari layar ponsel yang semata gelap. Ketika hendak kusampaikan, tiba-tiba layar ponselnya menyala amat terang dan menyilaukan.

Leherku seperti dicengkram tangan raksasa yang dingin dan aku tak bisa bergerak. Bahkan memejamkan mata pun tak kuasa. Mendadak yang dapat kulihat hanyalah cahaya putih yang benderang dan menyakitkan mata seperti menatap matahari jam dua belas siang dengan mata telanjang. Seolah bola mataku meleleh dan menyisakan lubang di kedua mataku. Tak mungkin jemari Jane mencengkram leherku sekuat ini. Rasanya dingin, dengan cepat menjalar sampai bahu. Posisiku membungkuk, tertahan oleh cengkraman di leherku yang membuat napasku tercekat. Kedua lenganku meronta tapi hanya meninju-ninju angin. Aku seperti bocah yang dipaksa memuntahkan kelereng keluar dari kerongkongannya.

“Lihat ini, bangsat!”

“Tak bisa, mataku perih.”

“Dasar cengeng!”

“Tolong…”

Leherku dibetot dan Jane, Jane bukan lagi Jane yang putih dan semampai dan cantik. Parasnya menjadi gelap, seperti lubang, seperti nganga sumur, dan dari lubang itu menyembur air yang deras. Aku terbangun, basah kuyup oleh keringat dan lumuran air yang sepertinya disembur dari mulut Matua. Galon di sisi kiri, Yap di sisi kanan, dan Matua tepat di hadapanku. Jane? Ia berdiri di belakang Matua, dengan mata seekor kadal ia menyeringai.