Posted inCerpen
Ada Aul di Desa Itu
Kinasih berdiri menatap bayang rimbun pohon mangga di halaman rumah yang berangsur gelap.
Terdengar suara tarkim dari jauh bersaut suara adzan. Satu demi satu cahaya timbul. Tetapi,
halaman rumahnya masih remang. Ia pikir sudah terlambat untuk keluar menyalakan sentir.
Bukan tanpa sebab ia begitu khawatir. Melainkan, jabang bayi dalam perutnya menjadi
pertaruhan.