Kinasih berdiri menatap bayang rimbun pohon mangga di halaman rumah yang berangsur gelap.
Terdengar suara tarkim dari jauh bersaut suara adzan. Satu demi satu cahaya timbul. Tetapi,
halaman rumahnya masih remang. Ia pikir sudah terlambat untuk keluar menyalakan sentir.
Bukan tanpa sebab ia begitu khawatir. Melainkan, jabang bayi dalam perutnya menjadi
pertaruhan.
Hanya beberapa detik saja, Kinasih melihat sekelebat bayangan lewat. Harapannya
kembali mencuat. Sudah dua malam suaminya tak pulang. Dari belakang rumah, terdengar
gesekan batang bambu, lalu suara pintu rumahnya diketuk. Kinasih menahan napas.
“Nduk? Senduk Asih?” suaranya silih berganti dengan ketukan pintu. Gegas Kinasih
membuka pintu.
“Bajul belum pulang?” ucap perempuan paruh baya di ambang pintu.
Kinasih menggeleng, tangan kanannya menyangga pinggang belakang. Sedangkan tangan
kirinya berpegang pada daun pintu. Sungguh kepayahan ia berdiri, apalagi harus berjalan dan
membuka pintu seperti yang telah ia lakukan.
“Eaalah Nduk…Nduk… Bojomu nengdi?” perempuan paruh baya itu masuk. “Sentirmu
kehabisan minyak, kamu masih punya minyak?”
Ruangan itu gelap, tercium bau apak pakaian yang berhari-hari mangkrak. Dalam bayang-
bayang, Kinasih hanya bisa melihat separo wajah bibinya itu. Bik Sumirah, adik ayah mertuanya
yang telah tiada.
Kinasih biarkan rumahnya gelap. Karena suaminya pernah berkata, lebih baik
membiarkan rumah kita tetap gelap di malam hari, daripada nyawa taruhannya. Mereka hanya
menyalakan lilin seperlunya. Rumah di ujung desa dan paling dekat dengan hutan itu, terbiasa
menghabiskan malam tanpa cahaya.
Pada malam-malam tertentu, cahaya bulan purnama menembus celah tembok gedek,
menembus atap rumah mereka yang bolong-bolong. Jika sudah demikian, tak ada bedanya, ada
atau tanpa cahaya sentir. Rumah mereka terang, seterang hutan belantara di bawah guyuran bulan
purnama.
Tetapi, Kinasih tetaplah perempuan malang. Di malam dengan guyuran purnama semacam
itu, suaminya tidak pernah pulang. Ia terpaksa berkawan dengan kesendirian. Biasanya, ia duduk
di samping jendela yang tertutup. Dari sana ia bisa melihat kerdip-kerdip cahaya. Sambil
mengelus perut, Kinasih senantiasa berdoa agar suaminya baik-baik saja.
Pagi di masa itu tak ada bedanya dengan malam-malam penuh teror. Suara-suara yang
lindap di hutan terdalam, erangan menyayat yang timbul tenggelam dari jauh, membuat Kinasih
kerap menyandarkan sebatang kayu sebesar lengan di samping tempat tidur. Jika pagi tiba, itulah
muara ketegangan yang mesti ia hadapi.
Kecemasan dan berbagai kekhawatiran itu timbul akibat koran yang menempel di mading
balai desa. Sesekali berkabar rentetan program pembangunan lima tahun yang digenjot meski
belum menyentuh desa mereka. Di lain waktu, orang-orang mesti menahan napas menerka dalam
tajuk berita: Lima Anggota “Gali” Tewas Tertembak di Bantaran Kali.
Tetapi yang terjadi beberapa hari belakangan berbeda. Lebih parah dan membuat pemuda
Desa Kaliawul musti siaga. Seorang laki-laki asing ditemukan tewas dalam karung yang
tercabik-cabik. Tidak jelas oleh apa. Nahasnya, dada kiri mayat laki-laki ini bolong, perut sobek
dengan usus yang terburai. Satu lagi yang warga sadari, setelah memberanikan diri menelisik si
mayat malang: tulang rusuknya patah dan jantungnya hilang. Seperti dicerabut paksa.
“Jelas, ini ulah binatang buas.” ucap warga suatu ketika.
Mereka mengerubung mayat itu. Punggungnya bertato. Ada bekas luka di pipi kiri. Mereka
mengira laki-laki malang ini adalah preman atau gali yang jadi korban petrus. Kemalangan
kembali menimpa mayatnya tatkala binatang buas mencabik-cabik tubuhnya.
Kekhawatiran mereka semakin menjadi-jadi. Parmin, seorang petani tua, melihat bayang
manusia berbulu pada malam sebelum kejadian ditemukannya si mayat malang. Ia hendak
mengecek aliran air di sawah. Lalu kencing di balik pohon pisang saat pandangannya lurus ke
arah jembatan. Bulan purnama meremangkan pandang, apalagi Parmin setengah sadar lantaran
digelayuti rasa kantuk. Parmin tercekat. Bayang itu berdiri kokoh, kakinya bengkok ke depan.
“Dan moncong itu, tidak salah lagi! Moncong Aul! Aul ngamuk!” Serunya pada warga pagi
itu.
Warga geger setelahnya. Meski tidak ada yang benar-benar bertemu dengan makhluk ini,
mereka mendengar secara turun temurun. Sesosok makhluk berbadan manusia besar, berbulu,
dengan wajah serigala.
Desa Kaliawul terletak di antara dua bukit yang masih lebat alasnya. Hanya ada satu jalan
raya berkelok yang melintas di dua bukit itu. Satu jembatan kokoh menghubungkan dua tepi
sungai. Di bawah jembatan di samping kanan kiri sungai, berjejer sawah warga.
Sial bagi warga. Sungai itu dikenal sebagai tempat pembuangan mayat orang-orang yang
dianggap membangkang pada negara di akhir tahun 67. Saat itu, warga dibuat geger karena
aliran sungai berwarna merah dan berbau anyir darah. Mayat-mayat bergelimpangan dengan rupa
menyedihkan. Setelah itu hingga saat ini, warga dipaksa hidup dalam teror tak berkesesudahan.
Berita-berita yang menempel di mading desa. Mayat-mayat terbungkus karung yang dilarung,
lalu terdampar di tepi sungai. Pemandangan semacam ini sudah masuk dalam darah dan sendi
kehidupan warga Desa Kaliawul.
Tidak ada yang ingat akan sebuah mitos yang hidup di dua bukit itu, hingga ditemukannya
si mayat malang. Ingatan itu menyeruak tiba-tiba. Seperti sebuah peringatan yang kerap
disampaikan oleh sesepuh desa.
Konon, jauh di dalam hutan terlarang di salah satu bukit, hiduplah seekor manusia serigala
yang menjaga mata air. Orang dulu menyebutnya dengan Aul. Ada yang menyebut mata air itu
dengan Situ Aul, tetapi warga lebih akrab menyebut sungai yang mengaliri sawah mereka dengan
Kali Aul. Seekor Aul tidak akan marah, melainkan jika ia diganggu. Salah satunya dengan
penebangan liar atau warga yang melanggar etika masyarakat adat. Jika sudah begitu, makhluk
ini akan turun bukit dan memangsa hewan-hewan ternak. Tetapi, warga tidak mengira cerita itu
benar-benar nyata adanya. Jika hewan ternak mereka sudah tidak ada, mungkin saja, makhluk ini
akan memangsa manusia.
Kecemasan itulah yang melingkupi warga Desa Kaliawul. Begitu juga dengan Kinasih.
Meski sepanjang usia pernikahannya, perempuan malang ini terbiasa melewati pagi dengan
kecemasan-kecemasan. Bajul, suami Kinasih, kerja serabutan. Apa saja ia kerjakan untuk
menghasilkan uang. Kemalangan semakin bertambah, lantaran rumah Kinasih adalah rumah
terakhir dan paling dekat dengan hutan.
“Kalau pulang, ingatkan Bajul untuk ikut ronda,” ucap Sumirah sambil membantu Kinasih
duduk di atas dipan.
“Suamimu itu, mesti diingatkan juga, tidak baik pulang kerja malam-malam. Apalagi di
perbatasan desa dan di dekat jembatan, sekarang ada polisi jaga.”
Kinasih mengangguk sambil mengelus perutnya. Ia tidak yakin kalau ucapannya akan
didengar oleh Bajul. Apalagi, belum lama ini, Bajul mengatakan kalau dirinya ada urusan
penting. Bukan pekerjaan. Tetapi, tentang rencana pemerintah membuat jalan tol di area hutan
dekat desa mereka.
“Mereka tidak tahu, kalau proyek terus dilanjutkan, bakal ada yang ngamuk,” begitulah
ucapan Bajul yang diingat oleh Kinasih. Awalnya, Kinasih tidak benar-benar paham. Tetapi,
Sumirah menjelaskan kalau mendiang bapak mertua Kinasih dikenal sebagai juru kunci mata air
di bukit itu.
“Aku khawatir, suamimu dituduh yang bukan-bukan,” kata Sumirah.
Tanpa dikatakan oleh bibinya pun, Kinasih sudah merasakannya. Setiap pagi, setiap
suaminya tak pulang, Kinasih membelah jalanan desa dengan perasaan ngilu. Sepanjang jalan,
sepanjang ia melewati kerumunan warga, ia merasa dengungan orang membicarakan hal-hal
yang seharusnya tidak ia dengar. Mata-mata yang penuh kecurigaan seringkali Kinasih rasakan
mengintip dari pintu dan jendela. Terlebih, saat Kinasih pulang berbelanja mampir di balai desa.
Kerumunan warga yang memenuhi mading desa satu per satu pergi. Meninggalkan Kinasih
seorang yang cemas membaca koran. Tidak jarang pula, staf desa meliriknya dengan tatapan
aneh bercampur curiga yang berlebihan.
Kinasih hanya memendamnya dalam dada. Tak mungkin ia ceritakan pada Sumirah apalagi
suaminya. Seperti malam ini, Kinasih terjaga mendengar langkah-langkah yang mendekat ke
rumahnya. Rupanya, rombongan peronda berhenti dan duduk di gubug seberang rumah.
Memang, di depan rumah Kinasih terdapat gubug reot yang biasa digunakan petani untuk
mengaso.
“Rokok Kang,”
“Bajul ngga pulang lagi?”
“Ngga tahu Kang, sudah lama, aku ngga lihat dia.”
“Kasihan istrinya, ngga diopeni.”
“Hussh, ngawur kamu! Mestinya kita ikut ngopeni!”
“Katanya sudah mau lahiran ya Kang?”
Kinasih mengintip dari celah jendela. Empat peronda duduk di seberang rumah. Berpendar
cahaya obor menerangi wajah mereka. Kinasih paham betul wajah-wajah itu.
“Lha iya, mestinya kita ikut tanggung jawab sama keluarga Bajul. Mati-matian dia lobi-
lobi dengan orang-orang proyek biar hutan kita ngga dijadikan jalan tol.”
“Lho? Bukannya bagus Kang, kalau ada jalur tol baru? Kita dapat kontrasepsi.”
“Kontrasepsi gundulmu! Kompensasi!”
“Asu tenan bocah iki! Ngga mikir! Awalnya jalan tol, ngga tahu nanti kalau hutan kita ikut
lobi ditebang buat proyek lain.”
“Wah bahaya juga kalau kayak gitu, Kang. Berarti benar ya, Kang? Aul ngamuk gara-gara
proyek jalan?”
“Aul apa bukan, yang jelas di dekat sini ngga cuma hewan ternak yang hidup. Parmin
pernah lihat macan di hutan larangan.”
“Halah, omongan Parmin kamu percaya! Ngibul itu!”
Sayup-sayup suara percakapan itu terdengar oleh Kinasih. Dari balik jendela, ia kembali
berjalan ke arah dipan. Kinasih duduk mengelus perutnya sambil berdoa agar suaminya
senantiasa dalam lindungan Tuhan.
Ponorogo, Desember 2024