Wisata Bukan mengundangmu untuk mengalami peristiwa singkat dan berkesan sepanjang hayat melibatkan unsur obrolan (dialektika), dan pariwisata (petualangan seolah-olah baru). Letakkan sejenak gawaimu, alihkan pandangmu keluar, temuilah orang baru, dan rasakan pengalaman ngobrol langsung (bukan daring) yang mencerahkan.

Sesi satu

Sabtu, 30 Januari 2021

Tema: (Bukan) Makanan

Jam : 10.00 – 12.00 WIB

Sesi duaย 

Minggu, 31 Januari 2021

Tema: (Bukan) Pakaian

Jam : 10.00 – 12.00 WIB

Peserta

Terbatas hanya untuk 5 orang

Investasi

Rp150.000,-/orang

Tempat

Bilik Literasi Solo

Kontak

http://bit.ly/kontakbukan

 

Tentang Wisata Bukan

Wisata Bukan bukanlah sebuah judul yang bukan-bukan. Tafsiran boleh dan mesti beragam.

Wisata Bukan:
Buku & Obrolan
Buku & Makan
Buku & Jajanan
Buku & Angkringan
Buku & Teman
Buku & Papan (Rumah)
Buku & Anggaran
Buku & Peranan

Buku sebagai benda nomer dua yang penting dan mendalam yang kehidupannya dibahas dalam obrolan dan setelah makan.

Manusia ngobrol (berpikir), lalu makan (kegiatan reguler) dan membuat buku (tradisi).

Buku dan … (titik titik) seperti lingkaran yang tidak sungguh-sungguh kita tahu mula dan pangkalnya. Barangkali kita pikir bermula buku, tapi siapa yang tahu?

Bandung Mawardi tidak hanya akan menjadi pemandu wisata dari buku ke buku, tapi terutama dan yang paling utama memberi penghiburan bagi kamu yang haus akan pertemuan dan obrolan langsung mendalam. Datang dan dengarkan. Barangkali ini akan jadi obrolan tersingkat paling berumur panjang dalam hidupmu.

Obrolan (minimal dengan diri sendiri dan kemudian teman) adalah yang tak dapat dipisahkan. Obrolan begitu lekat dan terjadi hampir setiap saat. Pakaian dan makanan pun demikian. Bentuknya begitu beragam, prosesnya penuh dinamika. Sejarah obrolan (dialog) dan produk-produk peradaban melahirkan dongeng-dongeng semiotika. Ini termasuk studi tentang tanda-tanda dan proses tanda, indikasi, penunjukan, kemiripan, analogi, metafora, simbolisme, makna, dan komunikasi.

Tulisan atau teks yang kemudian menjadi buku (analog maupun digital) adalah salah satu produk peradaban yang menyimpan kode-kode obrolan (pemikiran) manusia dengan sesamanya. Himpunan tulisan diurutkan atau bahan pikiran dikelompokkan agar saling berpadu. Mungkin didampingi tempelan, lukisan atau foto. Tiap lembar buku diberi nomor berurutan agar membangun rumah logika. Para pembacanya (yang tentu saja berpakaian dan makan secara reguler) menciptakan tafsiran. Mengundang segelintir perubahan cara memandang yang melibatkan rententan pikiran.

Buku adalah gagasan dan proses mental. Buku memungkinkan seseorang untuk merepresentasikan dunia sebagai model dan memberikan perlakuan terhadapnya secara efektif sesuai dengan tujuan, rencana, dan keinginan.

Buku bisa ditujukan untuk dituliskan, dipraktikkan, diteruskan lagi sebagai buku, dan yang paling umum: diteruskan ke dalam bahasa lisan, diobrolkan, diobrolkan, diobrolkan.

Lalu, membaca akhirnya tidak hanya membaca aksara di lembar-lembar. Membaca bisa begitu luas karena apapun (tidak hanya teks), idealnya, dapat dibaca. Mengobrol pun “membaca”.

 

Tentang Bilik Literasi

Belum pernah ada yang mencatat sejarah lengkap tempat bernama Bilik Literasi yang lokasinya sempat berpindah lokasi beberapa kali. Orang-orang yang baru pertama kali datang sering bertanya apakah ini perpustakaan atau taman baca. Si juru kunci selalu bilang dengan tegas, “Ini rumah!” Oh, memang sudah ribuan insan datang dan pergi ke Bilik, dan menyimpan rumah buku itu sebagai rumah tempat kapanpun dia pulang.

Jejak Bilik Literasi sebagai tempat “sinau” terserak di blog-blog pribadi, menyempil di buku-buku memuat pengalaman personal, pertukaran kabar di media sosial, buku-buku sederhana terbitannya yang sering mustahil cetak ulang, juga, terutama dari kelas-kelas sinau, entah berapa potong gorengan dan gelas-gelas teh nasgitel, juga yang paling ampuh berasal dari mulut gondrong Bandung Mawardi: jutaan jam obrolan. Kalau kita tak punya kata dan hanya butuh penghiburan belaka dari remuk redam dunia (maya), sediakan saja dua telinga Anda, panjang-lebarkan sampai dua meter, Bandung Mawardi akan bersneang hati memberikan kata-kata.

Orang-orang yang telanjur terjebak pernah mampir ke Bilik sering mengabarkan-mengantarkan orang-orang baru lagi. Ada yang mampir sebentar dan lama tak kembali, ada yang nekat sinau sampai hampir mati, lebih banyak yang menyimpan tempat itu sebagai kenangan sekali seumur hidup pernah mengalami obrolan nyata tanpa terganggu layar dan kamera.

Tahun demi tahun berlalu, rumah buku di Colomadu itu masih setia menunggu orang tersesat atau terjebak berikutnya.