Moderator dan narasumber berfoto bersama setelah konferensi pers (dari kiri: Ayos Purwoaji, Alia Swastika, Gintani Nur Apresia Swastika, Elia Nurvista, dan Gundhi Aditya)

Sekira empat puluh akun jurnalis berhasil nyangkut di layar aplikasi Zoom siang itu. Sementara empat pembicara plus satu moderator menjadi sorotan utama dalam acara Konferensi Pers Biennale Jogja XVI Equator #6 yang diselenggarakan selepas Jumatan pada awal bulan Oktober (01/10).

Gundhi Aditya, pemandu acara, memulai dengan menjelaskan tentang Biennale Jogja (BJ) dan penyelenggaraannya selama ini. BJ adalah biennale internasional yang diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan diorganisasi oleh Yayasan Biennale Yogyakarta (YBY). Tahun ini merupakan gelaran yang ke-16 sejak kali pertama diadakan pada 1988. Sejak 2011, Biennale Jogja berfokus pada Equator atau Seri Khatulistiwa dan membawa Indonesia, khususnya Yogyakarta, mengelilingi planet bumi selama 12 tahun.

Gundhi pun lantas mengulik informasi lengkap tentang Biennale Jogja XVI Equator #6 2021 dari keempat pembicara. Direktur Yayasan Biennale Jogja Alia Swastika mendapat giliran pertama. Dimulai dengan pertanyaan tentang penyelenggaraan Biennale Jogja selama ini hingga rencana apalagi setelah Seri Khatulistiwa.

“Biennale Jogja kali ini menjadi istimewa karena menandai satu dekade Biennale Jogja seri Khatulistiwa, yang dimulai sejak 2011. Untuk itu, diselenggarakan pula pameran arsip yang menampilkan kembali serpihan artefak dan catatan tentang bagaimana Yayasan Biennale Yogyakarta tumbuh dan berkembang dalam ekosistem seni di Yogyakarta dan di kawasan Global Selatan,” jawab perempuan yang juga penulis dan kurator itu.

Sementara pertanyaan seputar teknis penyelenggaraan acara disampaikan Gundhi kepada Gintani Nur Apresia Swastika selaku Direktur Biennale Jogja XVI Equator #6 2021. Ia menuturkan bahwa Biennale Jogja XVI 2021 digelar pada 6 Oktober hingga 14 November 2021. Seluruh rangkaian pameran dan program akan diselenggarakan di empat lokasi, yaitu Jogja National Museum (JNM) untuk pameran utama, Taman Budaya Yogyakarta (TBY) ditempati pameran arsip ekuator, sementara pameran Bilik Taiwan digelar di Museum dan Tanah Liat (MDTL) , dan Bilik Korea di Indie Art House.

“Selain empat pameran, ada sekitar 70 program yang kami rencanakan, seperti Biennale Forum, Program Labuhan, Residensi, Resource Room, dan lain sebagainya. Semua bisa diikuti publik, tapi sebagian publik undangan dan lebih banyak bisa diikuti secara daring, baik melalui https://biennalejogja.org/2021/ maupun akun media sosial Biennale Jogja,” tutur perempuan kelahiran Yogyakarta 1984 itu.

Dua pembicara berikutnya merupakan kurator pada pameran utama, Ayos Purwoaji dan Elia Nurvista. Keduanya melakukan perjalanan riset di kepulauan Indonesia bagian timur, yang memiliki corak budaya identik dengan kawasan Oseania. Masing-masing melakukan penelitian di Ambon, Maluku, dan di Jayapura, Papua, Maumere serta Kupang, di Nusa Tenggara Timur. 

“Perjalanan ini menjadi langkah awal Biennale Jogja untuk memahami kebudayaan Oseania melalui realitas kebudayaan di kepulauan Indonesia bagian Timur yang cukup identik,” kata pria yang juga pengajar di Universitas Ciputra, Surabaya.

Mengenai jumlah seniman yang terlibat, Ayos menjelaskan, tidak kurang dari 34 seniman dan komunitas yang terlibat, di antaranya merupakan ruang dedikasi untuk seniman dan tokoh budaya; Y.B. Mangunwijaya dan Sriwati Masmundari. Beberapa seniman partisipan antara lain Udeido Collective, Greg Semu, A Pond Is The Reverse of an Island, Radio Isolasido, juga Meta Enjelita dan Raden Kukuh Hermadi (dua seniman muda lulusan program Asana Bina Seni).

“Biennale Jogja XVI menaruh perhatian besar pada narasi-narasi mengenai lokalitas dan pengetahuan tempatan, serta dekolonisasi dan desentralisasi,” jawab Elia menanggapi pertanyaan Gundhi terkait tema Roots < > Routes.

Gundhi menutup acara dengan meminta peserta konferensi pers untuk membuka video pada Zoom dan mengangkat tangan. Dalam posisi freeze, dokumentator mengambil momen tersebut.