Judul: Perempuan yang Memesan Takdir

Pengarang: W. Sanavero

Tahun terbit: Cetakan ketiga, Juni 2020

Penerbit: Buku Mojok

Halaman: vi + 102 halaman

ISBN: 978-602-1318-65-2

 

Perempuan yang Memesan Takdir. Judul buku yang menurut saya sulit membuat kita tidak melirik barang sekian detik untuk sekadar merekam penampilan fisik dari buku ini. Dengan judul yang begitu sarat akan kesunyian, isi dari buku ini ternyata justru begitu berisik dan hidup.

Ialah W. Sanavero, penulis dari buku yang tengah saya bicarakan. Menurut saya, dengan gaya bahasanya yang magis dan menyublim, Sanavero berhasil menghadirkan realitas dari hal-hal kecil yang lolos dari pandangan kita sehari-hari. Bagaimana ia bicara mengenai perempuan di kota, di desa, di negaranya, di kamar dan sembahyangnya, di latar rumah, dan di mata masyarakat. 

Cerita-cerita yang ringkas namun padat dalam album prosa ini bertanya mengenai “Di mana letak kebebasan seorang perempuan, dan bagaimana takdir semestinya bekerja untuk mereka?”

Begitulah, terlahir sebagai perempuan sedari dulu terdengar mengerikan, dan Sanavero tidak takut untuk membicarakannya. 

Sanavero melucuti dengan trengginas hal-hal yang dianggap tabu dalam masyarakat. Salah satunya ada dalam prosa berjudul “Kopi Perempuan”. Ia tidak keberatan menggunakan objek-objek yang diidentikkan dengan feminitas seperti kembang dan lipstik untuk menghancurkan dinding tebal maskulinitas toksik. 

 

…Wajahnya, ah! Tadi aku melihatnya tidak seperti ini. Sepertinya air hujan sudah melunturkan dempul bedak dan warna bibirnya yang tadi aku pikir apel manalagi, manis asam membuat rahang ngilu.

(Hlm. 54)

 

“Aku tidak membicarakan perempuan di luar sana. Tapi, aku adalah perempuan dan aku merokok. Selama ini memang, rokok selalu disimbolkan dengan hal-hal yang bertendensi negatif bagi perempuan. Aku tidak tahu, cobalah kita sebut, pelacur, perempuan bar, atau yang lebih sederhana perempuan-perempuan yang hobi nongkrong dan pulang malam. Aku sedang berandai-andai, rokok ada di tengah dua jari perempuan-perempuan yang berambut panjang, berjepit tengah dengan rok bunga-bunga sambil memasak di dapur, atau perempuan-perempuan yang merokok setelah atau sebelum beribadah. Ah, itu keren sekali. Tapi aku tidak tahu setelah semua itu apakah perempuan merokok akan berubah citranya menjadi lebih mendingan, atau sebaliknya? Mereka yang kemudian citranya rusak gara-gara sebatang rokok,” sambungnya. 

(Hlm. 56)

 

Selain itu, ada Diajeng, seorang tokoh utama dalam prosa berjudul “Runduk”, telah pulang ke rumahnya di Blora setelah 19 tahun lamanya menuntut ilmu di kota lain. Di Blora, Diajeng tinggal dalam lingkungan bangsawan, ia adalah seorang putri keturunan darah biru di kota tersebut. Seluruh masyarakat di sana memperlakukan Diajeng dengan hati-hati seperti porselen mahal yang getas.

Selain itu, terdapat satu tokoh lainnya yang menarik yakni, Sri Ambar Cely, seorang wanita berdarah belanda yang sejak janin sudah dirawat oleh orang tua Diajeng. Sri Ambar Cely hidup seperti abdi lainnya, menundukkan kepala ketika berbicara dengan Diajeng, menyisir rambut Diajeng dengan lembut, hingga berjalan menggunakan lututnya ketika menghadap Diajeng.

Cerita dalam prosa ini kental dengan aspek-aspek hibriditas. Seperti Diajeng, seorang putri bangsawan yang mengafirmasi nilai-nilai egaliter karena besar di kota, di luar lingkungan bangsawannya. Atau, Sri Ambar Cely yang mengafirmasi feodalisme karena hidup dalam lingkungan bangsawan, padahal ia adalah seorang berdarah Belanda, dan hal ini tentu bukan budaya nenek moyangnya.

 

Di kota aku tinggal sebelumnya, tidak ada perempuan yang menundukkan kepalanya pada perempuan lain. Mereka mengangkat dagunya sejajar, dengan bentuk senyum berbagai warna bibir, beberapa manis, beberapa lainnya seperti lukisan distorsi, seperti boneka plastik yang tidak keruan bentuknya.

“Mbak, berjalan biasa saja dengan kedua kaki itu. Lutut manusia sudah diciptakan dengan warna hitam, jangan membuatnya semakin hitam karena berjalan di depanku,” kataku pelan.

(Hlm. 80)

 

“Kula Sri Ambar Cely, Diajeng.”

Dia tersenyum. Aku tertegun, bagaimana dia bisa mengucapkan dialek Jawa seperti perempuan asli Jawa? Lalu bagaimana dia bisa tinggal di tempat ini? Menggunakan jarit dan ukel konde dengan bentuk tusuknya yang sedemikian rupa. Jelas ini bukan budaya nenek moyangnya.

Teman abdhi lainnya cekikikan kecil. Sepertinya mereka membaca kebingunganku.

“Ngapunten, Diajeng, Mbak Ambar Cely ini sisa janin londo yang keberuntungan hidupnya di tangan Bapak,” kata Mbak abdhi yang sedang menyisir rambutku.

(Hlm. 81)

 

Diajeng juga mencoba melakukan perlawanan. Aksi yang dilakukan oleh tokoh utama dalam cerita ini yang, sudah tentu dengan modal sosial, juga menggunakan bahasa sebagai modal simboliknya, menegur para pelayan ketika membedakan model sanggulnya dengan para abdi.

 

“Tunggu, Mbak. Kenapa bentuk kondeku ini seperti dua sayap angsa? Berbeda dengan konde kalian yang sederhana dan rapi?” tanyaku di tengah penataan konde. Aku menyuruhnya membongkar ulang.

“Hormat menghormati akan terjadi ketika hati saling menunduk, itu artinya rendah hati. Kalau sekadar konde saja tidak menolong siapapun, Mbak. Termasuk orang-orang yang gila hormat. Lagi, jika suatu ketika mbak-mbak ini pindah ke kota lain, jangan sekali-sekali menundukkan kepala. Di luar sana manusia sedang berebut kehotmatan, tapi tetap jagalah hati kalian agar tetap merendah. Kalian harus jeli betul, rendah dengan rendah diri adalah dua hal yang tanpa sengaja saling bertukar. Yang patut adalah rendah hati, yang tak patut adalah merendahkan diri orang lain,” jelasku sambil menikmati uluran jari-jari perempuan dengan keluhuran yang luar biasa.

(Hlm. 83-84)

 

Begitulah buku ini, ia bekerja dengan rasa dan akal. Dan saya rasa begitulah Sanavero ingin berbicara, bahwa perempuan hidup dengan akal dan perasaannya, ketika salah satunya terlalu dominan, mereka akan resah. 

Buku ini juga hadir dengan bahasa yang meski terasa penuh kepahitan namun begitu ayu, jujur, dan sayang jika dilewatkan meski sekata.