Pembagian jenis sastra di Indonesia dibagi menjadi tiga, yaitu yang bersifat cerita, yang bersifat drama, dan jenis puitik. (Wiyatmi, 2004: 20). Komik dapat dikategorikan sebagai bagian dari genre sastra anak, karena komik merupakan perluasan dari cerpen, cerbung, maupun novel. Pengertian komik menurut Franz dan Meier adalah cerita yang bertekankan pada tindakan yang ditampilkan lewat urutan gambar yang dibuat secara khas dengan paduan kata-kata (via Nurgiyantoro, 2006: 410). Sedangkan dalam KBBI, komik didefinisikan sebagai “cerita bergambar (di majalah, surat kabar, atau berbentuk buku) yang umumnya mudah dicerna dan lucu” (2005: 583).

Melalui kedua pengertian di atas, dapat kita lihat bahwa inti dari komik adalah cerita. Hanya saja, penyampaian cerita dalam komik dilengkapi dengan kotak panel, teks yang sedikit, dan gambar yang banyak. Karena itu, komik termasuk dalam genre sastra anak dan merupakan perluasan dari genre sastra yang bersifat cerita. Seperti halnya musikalisasi puisi yang intinya tetap ingin menyampaikan puisi tersebut.

Gambar dapat dikatakan sebagai faktor utama dalam komik . Gambar-gambar yang berurutan tersebut merupakan perwakilan dari alur cerita . Meskipun demikian, unsur bahasa tidak dapat dilepaskan karena penyampaian sesuatu lebih sering efektif bila menggunakan bahasa daripada gambar.

Biasanya, anak-anak malas melihat buku cerita yang penuh dengan teks. Maka bila dikaitkan dengan salah satu fungsi komik, yaitu sebagai sarana pembelajaran anak, maka gambar adalah faktor penentu. Karena penangkapan awal yang dilihat anak-anak melalui sebuah buku ialah gambarnya baru kemudian ceritanya. Cerita yang bagus dan menarik akan mempengaruhi minat baca anak selanjutnya terhadap sebuah komik. Sehingga pesan dalam cerita komik lebih mudah diserap oleh mereka.

Tidak semua anak dapat dibekali dengan sarana komik sebagai pembelajaran. Berdasarkan perkembangan intelektual anak (Nurgiyantoro, 2006: 52), maka komik dapat disuguhkan kepada anak dalam tahap ketiga yaitu tahap operasional konkret, usia 7 – 11 tahun. Dalam tahap ini, anak-anak mulai dapat memahami logika secara stabil. Selain itu, anak dalam jangka usia ini mulai dapat mengembangkan imajinasinya ke masa lalu dan masa depan dan memecahkan masalah-masalah sederhana. Komik juga dapat diberikan kepada masa usia di atasnya, yaitu anak usia 11 atau 12 tahun ke atas (tahap operasi formal).

Di Indonesia, komik yang berbentuk buku masih sangat terbatas dan dikemas kurang menarik bila dibandingkan komik-komik dari luar. Komik di Indonesia dalam bentuk buku yang banyak ditemukan ialah komik biografi atau perjalanan hidup tokoh-tokoh terkenal. Bila dibandingkan dengan komik luar komik di Indonesia masih tertinggal jauh. Hal ini dikarenakan minat dalam pembuatan komik di Indonesia jauh tidak sebanding dengan minat baca masyarakatnya. Komik di Indonesia lebih banyak ditemukan sebagai bagian dari majalah atau surat kabar. Selain itu gambar yang dipilih masih berupa gambar animasi dan bukan gambar manusia realis. Komik dalam majalah dan surat kabar di Indonesia lebih banyak ditemukan dalam bentuk gambar fantasi. Seperti “Bona gajah kecil berbelalai panjang”, “Bobo”, dan “Ceritera dari Negeri Dongeng”. Contohnya dapat kita lihat dalam majalah Bobo atau Kompas Minggu.

Karena itu, anak-anak di Indonesia cenderung lebih memilih komik dari luar negeri. Selain gambarnya yang lebih baik, penampilan luarnya yang lebih menarik, juga karena anak dihadapkan pada lebih banyak pilihan.

Pengenalan komik sebagai bacaan anak sebaiknya jangan dilakukan secara lepas (tanpa pengawasan dari orang dewasa). Hal ini memerlukan tahapan penyesuaian dalam diri anak. Seorang ibu harus lebih selektif memilih komik yang beredar sebagai bahan bacaan anak karena tidak semua komik baik bagi anak-anak. Karena penyerapan masing-masing anak berbeda maka dampingan seorang dewasa menemani anak-anak membaca sebuah buku sangat diperlukan. Apalagi saat ini komik dapat dengan mudah ditemukan di mana saja.

Salah satu komik dari Jepang yang beredar di Indonesia yang cocok untuk anak-anak ialah komik hai, Miiko karya Ono Eriko. Komik ini bercerita mengenai seorang anak perempuan kelas lima SD dengan semua problematika anak seusianya mulai dari masalah dengan adik, orang tua, guru, teman, hingga teman laki-laki. Tokoh-tokoh dalam komik Miiko dibuat sangat sesuai dengan kelakuan anak SD sehingga terkesan lucu.

Selain itu, masih ada komik untuk anak usia yang lebih tinggi seperti Baby and I dan Tsubomi’s secret. Baby and I memiliki cerita tentang seorang anak laki-laki yang memiliki seorang adik yang masih sangat kecil. Dalam komik ini lebih sering terlihat pengorbanan seorang kakak bagi adiknya. Sedangkan Tsubomi’s secret merupakan komik yang bercerita mengenai rahasia anak-anak perempuan dan laki-laki yang sedang mengalami masa perubahan fisik. Komik ini disertai penjelasan mengenai hal tersebut hingga lebih mudah dimengerti anak-anak.

Komik-komik tersebut merupakan komik dengan jenis cerita realis sehingga melalui komik-komik tersebut, anak-anak dapat mempelajari cara memecahkan masalah mereka yang tercermin dalam cerita-ceritanya. Melalui konflik antar tokoh atau konflik dengan tokoh dengan dirinya sendiri, anak-anak juga akan mempelajari bagaimana mereka harus bersikap dalam menghadapi suatu masalah atau seseorang.

Meskipun demikian, komik-komik ini masih tetap belum memadai sebagai sarana pembelajaran bagi anak-anak di Indonesia. Hal ini disebabkan karena perbedaan budaya di Jepang tempat pengarang komik ini tinggal dengan Indonesia. Beberapa istilah seperti “musim semi”, “musim dingin”, dan “perayaan tanabata”. dapat menghambat penangkapan anak dalam memahami isi cerita. Selain itu, beberapa cerita dalam komik-komik tersebut mulai bercerita mengenai pacaran. Perbedaan budaya yang tercermin melalui komik tersebut diterima secara berbeda oleh masing-masing anak. Karena itulah dampingan seorang dewasa sangat diperlukan untuk menjelaskan hal-hal tersebut kepada anak-anak.

Terkait dengan semua hal di atas, komik merupakan salah satu sarana pembelajaran yang baik bagi anak-anak usia tertentu. Penulis komik tentu bertujuan menyampaikan pesan moral kepada pembaca yang tujuan akhirnya bermanfaat bagi anak-anak. Pesan tersebut dapat berupa pesan yang disampaikan langsung bagi anak-anak. Pesan tersebut dapat pula berupa pesan yang disampaikan kepada orang tua dengan tujuan agar orang tua dapat mengerti bagaimana kondisi anak dan bagaimana mereka harus menghadapi sikap anak-anak mereka tersebut.

Karena itu, komik anak tidak terbatas pada pembaca anak-anak. Orang tua dan guru juga perlu membacanya sebagai salah satu sarana untuk mengerahui dunia anak ata pandangan anak mengenai dunia dan orang-orang di sekitarnya.

 

Klik di sini lihat daftar pustaka