https://traveltriangle.com/

 

Makanan mana yang lebih sehat, pizza margherita atau salad sayur? Pastilah salad sayur. Tetapi tentu aku tak cukup bahagia dengan salad. Aku menginginkan, bahkan membutuhkan, pizza. Jadi saat pelayan menanyakan pesananku, dengan lantang kujawab: pizza, serta strawberry float sebagai minuman.

Pizza itu akan kumakan sendiri, sebab aku tak ingin diketahui sedang bersedih oleh siapa pun. Restoran pizza yang kudirikan akan tutup bulan depan; lima pekerjanya tak punya pekerjaan, dan pemiliknya tak punya usaha lagi.

Pizza itu datang sepuluh menit kemudian. Stres membuatku ingin segera menikmati yang manis-manis. Aku langsung menyesap strawberry float-ku. Ah, rasanya segar sekali. Meski minuman ini bernama strawberry float, yakinlah bahwa tak ada secuil stroberi pun di dalamnya. Tetapi penjualnya tetap menuliskan strawberry tanpa sekalipun dituduh telah membohongi publik, dan pembeli tetap meminumnya tanpa bertanya.

Setelah minumanku tersisa setengah, aku perhatikan pizzaku yang belum kusentuh sama sekali. Aku jadi tambah sedih. Buat apa sih aku datang ke restoran ini? 

Akhirnya kumakan juga sepotong pizza. Pizza ini tidak lebih enak dari yang kubuat. Sausnya biasa saja, malah cenderung hanya seperti saus tomat botolan. Sementara buatanku, rasa sausnya begitu khas. Aku menaruh bawang putih dan  bawang bombay dengan takaran yang pas. Base pizza ini juga agak keras ketika mulai dingin, sedangkan buatanku tetap empuk. Tetapi kenapa restoran ini bisa menjual pizza jauh lebih banyak dari restoranku? Berarti yang salah memang bukanlah produknya. 

Sebenarnya sudah sering aku datang ke setiap tempat yang menjual pizza di kotaku. Baik yang baru buka, maupun yang sudah ada jauh sebelum restoranku ada; yang pemiliknya orang lokal, juga yang pemiliknya dari luar kota bahkan luar negeri, yang warung sampai restoran. Bahkan yang base-nya cuma dijual di supermarket juga sering kuamati dan kucoba. Hasilnya, pizza dari restoranku adalah salah satu pizza terenak, jika bukan yang paling enak. Bukan cuma aku yang mengatakan demikian, melainkan juga para pelanggan dan karyawanku. 

“Ayo semuanya, cobalah pizza yang kubeli ini,” kataku suatu ketika kepada para karyawan. Mereka pun datang ke mejaku dan mengambil masing-masing sepotong. “Bagaimana rasanya?” tanyaku.

“Waah, masih kalah jauh dari punya kita, Pak,” kata Amri, karyawanku yang paling lama. Dialah yang biasanya membuat saus dan base pizza, dari resep yang dulu kuajarkan.

“Ini sih rasa basenya seperti roti tawar, sausnya juga terlalu asam, tidak cocok untuk lidah Indonesia,” kata Diah menimpali.

“Kalau menurutmu bagaimana, Mi?” aku bertanya pada Fahmi, karyawan yang paling pendiam.

“Menurut saya ini memang kalah enak, Pak. Tapi marketing mereka gila-gilaan.  Waktu saya berangkat dari rumah ke sini, saya lihat sepanjang jalan iklan reklame mereka saja sampai tiga, belum lagi di tempat lain yang tidak saya lewati. Oh ya Pak, saya jadi ingat, sekitar dua minggu lalu,  mereka juga membagi-bagi flyer di lampu merah, promo beli satu gratis satu untuk setiap makanan atau minuman.”

“Benar kata kamu, mereka memang promo gila-gilaan. Ini saja tiap beli dua pizza medium, diskon tujuh puluh persen untuk kunjungan selanjutnya,” ujarku.

Waktu itu sebuah merek pizza baru yang dimiliki seorang artis yang keluarganya adalah konglomerat di Indonesia baru membuka cabang restorannya di kota kami. Selama beberapa minggu pengunjung restoranku berkurang. Tetapi itu tak berlangsung lama, pelangganku segera kembali lagi. Memang, bila ada tempat baru, biasanya konsumen akan cenderung berbondong-bondong pergi ke sana. Tetapi menjual makanan adalah terutama soal rasa, baru yang lainnya. Jadi ketika rasa makanannya tidak cocok, para konsumen akan kembali lagi pada yang lama.

Sudah enam tahun aku membuka restoran pizza, dan selama itu pula tak ada masalah berarti. Sesekali memang ada tamu yang complaint, tetapi itu hal yang biasa di jenis usaha apapun.

Kuperhatikan restoran pizza tempatku makan saat ini. Pengunjung cukup ramai meskipun tak sampai penuh. Karena restoran ini cukup luas, ketika menampung banyak tamu, masih banyak tersisa tempat yang lengang. 

Aku ingat karyawan-karyawanku yang telah membantuku selama ini. Tentu tidak mudah mencari pekerjaan lain bila mereka sudah cukup lama bekerja di suatu tempat. Perasaan betah karena memang sebelumnya sudah berusaha menyesuaikan diri, harus mereka mulai lagi di tempat baru. Sejak awal aku memang menginginkan hubungan yang wajar dengan para karyawan. Aku juga mendirikan usaha karena memang muak dengan bos-bos di tempat lain yang berlebihan memperlakukan pekerjanya. Bos-bos itu menyuruh karyawan untuk merasa memiliki perusahaan yang tidak mereka miliki. Mereka menyuruh karyawan menjadi profesional tetapi tidak memberi gaji yang proporsional. Mereka mengungkapkan hal-hal itu dengan gaya yang dibijaksana-bijaksanakan. Sungguh memuakkan.

Sebetulnya tidak ada yang berjalan keliru sebelum pandemi. Karyawan selalu kugaji sesuai UMR, belum lagi ditambah sepuluh persen dari service yang ditarik dari pembeli yang ditambahkan bersamaan dengan pajak. Mereka libur sesuai peraturan pemerintah, ditambah libur haid dan cuti melahirkan. Setiap kritik dari pengunjung selalu kutampung dengan baik. Baik aku maupun para karyawan tak ada yang pernah sampai bersitegang dengan pengunjung. Restoranku selalu bersih terutama di bagian toilet. Kalau masalah kebersihan, aku memang pengidap OCD; tidak bisa melihat sedikit pun kotoran di sekitarku.

Mungkin karena kondisi yang kuanggap seimbang itu, aku tidak terlalu memikirkan situasi-situasi yang sebaliknya. Maka ketika di akhir tahun lalu ada seorang teman menawarkan sebidang tanah, aku bersedia membelinya dengan tunai. Kupikir, mumpung sedang ada uang, apa salahnya membeli tanah. Kapan lagi bisa mendapatkan tanah di lokasi strategis dengan harga di bawah harga pasaran. Toh, bulan-bulan mendatang uang akan selalu mengalir.

Ternyata perkiraanku salah besar. Pandemi merusak perekonomian, khususnya usaha yang dana likuiditasnya tidak aman. Mula-mula aku bisa membayar semuanya, tetapi setelah tiga bulan aku mulai kelabakan. Uang tunaiku hampir seluruhnya sudah kupakai membeli tanah, sedangkan status tempat usahaku adalah kontrak. Belum lagi pengeluaran harian dan bulanan: membeli bahan baku, membayar tagihan, dan menggaji karyawan.

Dua bulan lagi restoranku habis kontrak, sedangkan aku sudah harus membayar kontrak berikutnya tiga bulan sebelum kontrak sebelumnya habis. Tidak ada kebijakan dari pemilik ruko, dia memang orang yang sangat disiplin dan anti permakluman untuk urusan uang dan sewa-menyewa. Rupanya aku akan memulai dari nol lagi.

“Halo Ben,” kata seseorang yang tiba-tiba berdiri di depanku.

“Halo. Maaf, siapa ya?” sungguh aku tak mengenalnya.

“Wah, sudah sukses lupa sama teman,” katanya dengan akrab.

“Maaf, aku benar-benar lupa,” ucapku sopan.

“Boleh aku duduk?” tanyanya. Sebetulnya aku agak enggan, tapi kembali, demi sopan santun aku mempersilahkan.

“Aku Boy, kelas IPA 2. Kita satu angkatan, ruangan kita bersebelahan. Dulu kan kamu terkenal karena juara memasak di SMA.” Aku ingat, bukan dengan Boy ini, tapi dengan diriku yang dulu. Aku dianggap keren karena bisa memasak makanan western dan mendapat juara pertama saat lomba di acara kemerdekaan.

Akhirnya Boy bicara ke sana kemari selama beberapa menit. Aku yang sebelumnya ingin memanggil waiter untuk membungkus tujuh potong sisa pizzaku yang tidak selera kumakan, sekarang malah makan potongan kedua, dan karena cuma Boy yang berbicara, aku makan potongan ketiga.

Akhirnya, seperti dugaanku, tibalah saatnya Boy membicarakan maksud utamanya. Memang, bila orang asing tiba-tiba ramah tapi tak peduli dengan perasaan kawan bicaranya, pastilah ia punya kepentingan tertentu. 

“Kebetulan saya bekerja di asuransi. Semua bisa diasuransikan. Mulai dari kesehatan, mobil, rumah, sampai tempat usaha…”

Aku tersedak, lalu muntah dengan jenis muntah yang disebabkan rasa marah.***

 

Belencong-Belakang Gereja-Gang Metro, 

16 November 2020-27 Agustus 2021