https://www.americamagazine.org/women-church-2018

https://www.americamagazine.org/women-church-2018

 

“Teng, teng, teng……” Bunyi suara lonceng gereja.

“Woy…Misa woy!!!” kataku dengan lantang membangunkan teman satu asrama denganku.

Pada hari Minggu aku mengikuti misa di salah satu Gereja paroki yang ada di kabupatenku, aku bertugas sebagai koster paroki yang bertugas untuk menyiapkan peralatan misa hari Minggu dan hari Raya biasanya. Pada hari itu aku melihat dari balik jendela kaca yang tembus pandang di dalam ruang sakristi, aku melihat seorang gadis yang duduk di tenda luar Gereja karena di dalam Gereja penuh umat yang misa.

Aku melihat dia duduk di tengah-tengah keramaian umat, tanpa disadari dia juga mengetahui bahwa aku memandangnya dari balik jendela sakristi. Ketika dia melihat kearahku, aku segera berpaling muka, agar tidak diketahuinya jikalau aku memandangnya. Rasa hati penasaran akan namanya dan dari mana asalnya dan sekolah dimanakah dia?. Rasa ingin tahuku pun semakin kuat akan identitasnya, wajah yang begitu manis, cantik, dan imut ditambah memakai dres berwarna merah marun membuatku sangat tertarik kepadanya, karena sangat penasaran, aku akan berusaha mencari tahu siapa dia.

Pada awalnya aku merasa bahwa aku akan sia-sia untuk mencari tahu namanya, tetapi tanpa disadari bahwa dia mengikuti misa bersama salah seorang adik kelasku yang pada saat itu aku juga belum mengenal adik kelasku di SMA dan dia masih kelas X SMA, jadi wajar saja aku belum mengenalnya.

Pada saat selesai misa aku sibuk untuk memberes-bereskan peralatan misa, sehingga aku tidak melihat dia lagi, karena dia sudah pulang duluan dan aku mulai putus asa dan harapanku untuk bisa berkenalan dengannya pun hilang. Aku selalu memikirkan gadis cantik yang memakai dres merah marun, sampai malam pun aku terus memikirkan dia dengan harapan suatu hari nanti aku akan bertemu dia.

Hari selanjutnya, yaitu hari Senin aku masuk sekolah pagi, aku pergi bersekolah dari tempat tinggalku dari asrama pastoran. Aku berangkat kesekolah dengan menggunakan sepeda BMX, jarak dari asrama ke sekolahku hanya sekitar 3 Km saja.

***

Ya sekitar 15 lah jika memakai sepeda. Setelah tiba di sekolah, tiba-tiba ada adik kelasku yang menghampiriku, “Oh iya, aku waktu itu kelas XII SMA”. “Lanjut lagi”. Tiba-tiba adik kelasku bertanya kepadaku dengan muka polosnya, adik kelasku itu perempuan, dia bertanya kepadaku. 

“Kak, kakak kemarin pas hari minggu di Gereja, kakak kan di ruang sakristi kan..?” 

Dan aku menjawab, “Iya kok kamu tahu..?” 

“Tahulah kan kakak ngeliatin teman aku teruskan, waktu kami ikut misa di Gereja..?” 

Aku menjawab, “Teman kamu, teman yang mana..?”

“Itu loh yang hari Minggu ikut aku misa dan dia pakai dres warna merah maru,n” katanya dan aku menjawab serta kaget.  

“Oh iya… Kok Kakak gak ngeliat kamu, ya?”

“Ah, makanya jangan terlalu fokus sama dia aja dong, Kak, sampai-sampai adik kelasnya sendiri gak dikenal!”

Aku menjawab serta malu dan memang aku belum kenal sama adik kelasku itu (sebut saja namanya Marshia, dia adik kelasku di SMA). Sambil malu aku menjawab dan bertanya.

“Jadi temanmu yang kakak perhatiin pada waktu hari Minggu itu?” 

“Iya, Kak. Dia juga satu tempat tinggal sama aku, kan kami tinggal di rumah kakak sepupunya dia,” 

Langsung saja aku kaget serta gembira, sebab gadis yang aku lihat di Gereja itu ternyata sahabat dari adik kelasku, lalu adik kelasku membuka cerita kepadaku.

“Kak, dia itu tahu loh kalo kakak ada perhatiin dia,”

“Oh, iya.!!!” Kataku dan Marshia menjawab lagi. “Dia itu risih loh, Kak, pas Kakak perhatiin dia, tapi dia juga penasaran dengan nama Kakak, dia juga ingin tahu Kakak itu siapa? Karena dia ada cerita sama aku dan aku jawab, kalau Kakak itu adalah kakak kelasku di SMA kelas XII dan aku bilang namanya Kak Pasa.”

Sontak aja hatiku sangat senang dan gembira karena dia juga penasaran dengan namaku “Hehehe”. Tiba-tiba Marshia berbicara.

“Kak, dia tuh mikirin Kakak loh, soalnya tadi malam dia curhat terus ke aku, kayaknya dia juga penasaran banget sama Kakak,”

“Oh iya, yang benar kamu…? Yes…!! Akhirnya. Hahahah.”

Begitu senangnya aku dan aku bertanya kepada Marshia, “Oh iya, nama dia siapa, Dek?” Bukannya langsung jawab, tapi dia malah ngolok, katanya “Cieeeeeee…. Kak Pasa senang banget tuh!” Dan aku sangat malu serta senang.

Aku bertanya lagi sama Marshia, “Udah kasih tahu, dong, namanya. Penasaran, nih!?” Dan dia menjawab.

“Hemmm cieee… Kak Pasa jatuh cinta nih, ye…!” Dan dia berkata lagi, “Oh iya, namanya itu Herlina Veronika, dia sekolah di SMA Swasta juga dan dia kelas X SMA, sama kayak aku, tapi beda sekolah aja, sih.” 

Dengan sangat gembira dan aku mendengarnya dengan baik. Aku berkata, “Wah, terima kasih, ya, hmm. Jangan lupa sampaikan salam Kakak sama dia, kalau Kakak minta kontak Hpnya, ya..!” 

“Sip, Kak. Santai aja.” 

Tiba-tiba bel sekolah pun berbunyi, “Teeeetttttttzzz” pertanda masuk kelas dan pelajaran akan segera dimulai, karena begitu asyiknya ngobrol dengan Marshia, tanpa sadar sampai bel sekolah pun berbunyi dan kami masuk kelas masing-masing.

Setelah keesokan harinya aku bertemu lagi dengan Marshia di kantin sekolah.

“Haiii, Mar. Gimana, dapat gak kontak Hpnya?” kataku. 

“Iihh, Kakak nih. Ganguin aja. Kenapa sih, Kak?” 

“Eh, kau nih lupa, ya. Kontak Hp teman kamu?” 

“Oh iya, lupa, Kak. Hehehe. Maaf deh, Maaf. Ada nih kontaknya. Mau kah, Kak?”

“Ya maulah. Mana-mana kontaknya?”

***

Aku pun mendapat kontaknya Herlina, kami memulai perkenalan dan kami memulai percakapan sehingga kami pun membuat jadwal untuk bertemu berdua. 

Perkenalan yang begitu dekat membuatku merasakan bahwa aku juga sudah mulai jatuh cinta dan ingin menjadi pacarnya. Kami selalu terbuka, ke Gereja berduaan dan selalu bersama-sama. Sehingga pada suatu harinya aku pun berniat ingin menembaknya “Aaasssiaaaappppp” akhirnya ia pun menerimaku untuk menjadi pacarnya.

***

Kami berpacaran selama 8 bulan, sehingga pada akhirnya aku pun menemukan panggilanku untuk menjadi seorang imam. Ketika sudah tamat SMA, aku memutuskan untuk mengakhiri hubungan ini dan ketika ia mendengar itu, tentu ia sangat sakit sakit hati. Aku juga sungguh sangat mencintainya, tetapi karena panggilan, aku tetap pada keputusan itu. Hingga akhirnya ia pun bisa mengerti. Aku memilih menjadi calon imam di keuskupanku. Aku calon imam projo. Sebab aku berasal dari keuskupan daerahku.