https://images.unsplash.com/

https://images.unsplash.com/

 

Aku putus asa. Di atas brankar yang didorong orang-orang melewati lorong-lorong sunyi, aku kemudian terdampar di sebuah ruangan paling mencekam yang pernah kutemui selama ini. Dinding-dindingnya menjerit, atap hitam berkelebatan seperti bayangan mahluk menakutkan. Mereka menutupi sebagian wajah, lampu-lampu menggantung di atas kepalaku, denting pisau bedah, gunting dan entah apa lagi, beradu seperti suara sendok dan garpu di dalam kudapan. Sukmaku melayang ke sebuah negeri yang asing, hanya ada padang savana dan langit biru tanpa mega. Angin menghembuskan kedamaian, semua pedih perih menghilang, aku merasa ringan. Aku ingin berada di sana selamanya. Tapi seseorang memanggil-manggil namaku, bertahlil, bertakbir, sayup-sayup kemudian semakin jelas, semakin keras. Aku terbangun.

Selang infus dan tabung oksigen memasung tubuh dan pikiranku. Perempuan kulit sawo matang berbaju putih-putih dan sepatu putih menyelipkan termometer di ketiak, dia menuliskan sesuatu di atas secarik kertas kemudian berlalu. Seorang pria berjanggut tipis tidak terlalu tinggi berbaju putih-putih dan sepatu putih menancapkan jarum kecil di lengan kiriku, menghisap darah dan memasukkannya ke dalam tabung, kemudian berlalu. Seorang pria berkulit putih, bermata sipit dengan kacamata tebal, menyentuh denyut nadiku, menempelkan stetoskop di dadaku, kemudian berlalu. Seorang perempuan bertubuh gempal, membawa map berisi berlembar-lembar kertas, mencatatkan sesuatu di atasnya, kemudian berlalu.

Seorang perempuan berwajah tirus, berambut hitam lurus sebahu, berbando merah jambu. Selalu tersenyum ke arahku, matanya bulat dan bening, sorotnya teduh menenangkan. Dia merapikan seprai dan selimut, membersihkan air yang tumpah di meja samping tempat tidur, menyisir rambutku, menyeka tubuhku, menyuapiku, menyapaku dengan lembut. “Kau sudah baikan?” Aku hanya bisa mengangguk. Aku mencoba melebarkan bibirku, tapi rasanya nyeri, bekas luka robek yang belum sembuh.

Perempuan bermata bening itu datang ketika matahari masuk ke dalam ruanganku melewati kaca jendela yang bertirai transparan, lalu pergi saat gelap menyeruak dari atap, dari jendela dari lubang kunci dan luruh cukup lama di hatiku. Dia akan mengucapkan selamat tinggal dengan kecupan di kening dan pipi. Maka aku bersabar melewati kesunyian sepanjang malam dan melangitkan harapan-harapan untuk bisa bertemu dengannya lagi.

Dia kembali datang. Matanya tebal, jejak airmata yang sudah tumpah, di pelipisnya sebuah memar, merah membiru. Dia masih saja tersenyum ke arahku. Membuka sebuah bungkusan berisi buah-buahan dan menatanya di atas meja. Aku menatapnya tak berkedip, berharap dia menjelaskan sesuatu dengan marah, dengan kebencian atau kesedihan. Tapi dia tidak melakukannya. “Aku menabrak pintu kamar mandi.”Katanya. Menikam jantungku.

Perempuan cantik bermata bening terduduk di sisi ranjang, menggenggam tanganku yang dibalut perban putih, meranumkan puji-pujian di bibirnya yang tipis, doa-doa mengalir ke seluruh pembuluh darahku. Dialah satu-satunya alasan aku harus terbangun dari setiap mati suri. Di kedalaman mata beningnya aku menemukan sebuah rumah, tempat aku awali hidup dan ku akhiri perjalanan panjang yang selalu mengantarkanku dengan kebaikan, dan aku hanya ingin pulang setiap waktu untuk melihat senyumnya.

Ponselnya berdering, dia mengucapkan salam, tapi kemudian air mukanya berubah pasi, lengannya gemetar, berusaha menjelaskan sesuatu yang tidak juga dimengerti oleh seseorang di sana. “Aku akan segera pulang..” lirihnya menyerah. Aku mencegahnya, memaksanya tinggal, memohon, meronta agar dia tidak pergi meninggalkanku. Tapi dia berkeras, dia selalu merasa akan lebih membuatku menderita jika dia tak memenuhi keinginan seseorang di balik telepon itu.

Aku selalu mencari kata-kata tepat untuk menerjemahkan segala yang dilakukan perempuan bermata bening itu. Aku tahu dia menderita. Mata indahnya yang kerap menjadi sembab, memar di wajahnya dan tubuhnya yang semakin hari semakin ringkih adalah lara yang disembunyikan teramat dalam. Sehingga tak seorang pun bisa menjamahnya. Tapi aku tahu dan ingin menolongnya, tapi dia tak pernah mengijinkan aku untuk melakukannya. “Jaga saja dirimu, kelak kau harus menjadi laki-laki sejati yang mampu memahami dan memuliakan perempuan seperti yang diajarkan para nabi dalam kitabnya.” Begitu pesannya. Menghancurkan aku.

***

Seorang perempuan berbadan ramping, berbaju putih-putih dan bersepatu putih dengan hak sedang, membawakan makanan dan buah, kemudian berlalu. Seorang pria yang ramah berbaju putih dan sepatu putih memberikanku obat yang harus kuminum sebelum makan, meletakkannya di sampingku, kemudian berlalu. Suara gaduh roda makanan yang didorong, tangisan kehilangan dari kamar sebelah, erangan nyeri pasien di ruangan depan, bergantian, berkejaran mendesak lubang telingaku. Kepalaku berputar-putar. Aku cemas, perempuan bermata bening tidak datang.

Aku menangkap suara adzan yang dikumandangkan dari arah selatan, untuk yang ketiga kalinya hari ini. Jam dinding berbunyi masih cukup keras, tapi jarumnya tidak bergerak. Aku semakin yakin perempuan bermata bening itu tidak akan menjumpaiku. Pikiranku berkecamuk, dadaku disayat pertanyaan-pertanyan tentang keadaanya. Mungkinkah dia baik-baik saja. Ataukah sesuatu yang buruk tengah menimpanya. Apakah di tidak datang karena seseorang yang meneleponnya kemarin. Ataukah dia sakit karena terlampau kelelahan mengurusiku. Bukankah seharusnya dia mengirimiku pesan singkat untuk menjelaskan semuanya.

Malam Pun mendaki. Seorang perempuan bertubuh beralis mata lengkung, memasuki ruanganku, mengganti botol infus, menutup tirai, mengecilkan volume televisi, kemudian berlalu. Para pelayat berlalu lalang menuju pintu keluar, meninggalkan keheningan yang membunuh.

Aku terjaga sepanjang malam, berdoa sebanyak napas yang keluar dari hidungku. Memohon kebaikan bagi perempuan bermata bening, aku meminta kesembuhanku. Aku memaksa Tuhan menghancurkan orang-orang yang mencoba menyakiti orang-orang baik seperti perempuan bermata bening. Aku ingin malam cepat berganti dan matahari bisa datang lebih pagi. Aku ingin melihat dia tersenyum ke arahku.

***

Pintu kamarku dibuka paksa, pegangannya membentur tembok membuat suara keras yang mengejutkan. Seorang pria berbadan tinggi dan berotot, berdiri tegak sambil bertolak pinggang, urat-urat di wajahnya garang, sebuah luka di hidungnya menambah aura seram.”Kemana dia? Kemana?” Bentaknya. Dia berjalan ke arah ranjangku, kemudian mengangkat dadaku, mencekik leherku dengan tangan kanannya. Aku tersedak, tak bisa bernapas.

Seorang security berteriak memanggil bantuan. Mereka berdatangan, satu diantaranya mencoba melepaskan tangan laki-laki itu dari leherku. Yang lainya menarik lengan kiri pria berbadan kekar itu ke belakang, hingga terjerembab ke lantai. Lelaki itu meronta dan masih berteriak.”Kaulah yang membuatnya menjadi pembangkang! Dasar keparat, kau membuat dia menjadi istri durhaka!” Para penjaga itu memborgol dan menyeretnya ke luar kamar.

Orang-orang berbaju putih segera menemuiku, memastikan keadaanku baik-baik saja.

Perempuan bermata bening hanya tertunduk ketika kuceritakan semuanya.
“Dia hanya begitu jika sedang kesal dan banyak masalah.”
“Masih saja membelanya.”
“Bagaimanapun dia adalah suamiku.”
“Dia yang melarang menemuiku?”
“Aku tidak bisa terus menjagamu, pada akhirnya nanti kau harus mampu berdiri di atas kakimu sendiri. Jangan cemaskan aku, aku sudah cukup tua untuk memilih lukaku sendiri. Segeralah sembuh, matahari menantimu.” Aku ditikam lagi. Kali ini teramat dalam.

Lalu dengan terburu-buru dia mengemasi barang-barangnya. Sebuah alquran kecil, mukena, sajadah dan payung. Suara petir menggelegar, membidikan kilatan-kilatan menakutkan. Sebelum berlalu dia menggenggam tanganku. Mata beningnya berbinar, senyumnya mengembang, ”Jaga dirimu, kalau aku tak datang lagi, yakinlah bahwa aku selalu mencintaimu dan mendoakan segala kebaikan untukmu.” Terdengar seperti kata perpisahan.

Aku menatapnya, dia membuka pintu dan berjalan menuju tangga keluar gedung, Tiba-tiba aku merasa harus mengejarnya, sesuatu sedang dipikirkannya, dan itu mungkin buruk. Aku mengangkat tubuhku perlahan-lahan, melepaskan botol infuse dari kaitannya. Lalu mencoba menurunkan kakiku ke lantai yang dingin. Terseok, aku mengejar perempuan bermata bening yang hampir menghilang dari pandangan. Aku ingin memanggilnya. Tapi hanya nyeri yang kurasakan di bibir dan sekujur tubuhku. Aku terus berjalan sampai ku saksikan dia memasuki sebuah bus dan pergi.

Orang-orang berbaju putih dan bersepatu putih memburuku.
“Hai, kau ini mau kemana?” Tanya mereka. Aku tak menjawab.

Seorang laki-laki mendekatiku, wajah yang ku kenal. Dia Kardjo tetanggaku. Kepadanya aku menceritakan maksud dan tujuanku mengejar perempuan bermata bening. Aku bilang aku sangat mengkhawatirkannya dan Kardjo sangat mengerti. Dia berjanji akan mengantarku pulang setelah membantuku menyelesaikan seluruh urusan administrasi rumah sakit.

“Maafkan aku Djo, aku jadi merepotkanmu.”
”Sudahlah Goes, kau pun akan melakukan hal yang sama, jika hal yang buruk ini menimpaku.”

Kardjo tetangga juga sahabatku, dia mengetahui segala penderitaan yang kuhadapi semenjak kakak perempuanku meninggal akibat ledakan, terjadi di depan sebuah hotel berbintang di Jakarta. Bapakku yang pemabuk semakin menggila setelah kejadian itu. Dia menyalahkanku, menyalahkan teman-teman mengajiku termasuk Kardjo, menyalahkan ibu yang mengajariku mengaji, menyalahkan guru mengajiku, menyalahkan ajaran-ajarannya. Bapak menyalahkan semua orang, dia bilang aku dan orang-orang sepertiku yang membunuh kakak, sehingga dia begitu membenciku. Aku sering berlari sembunyi di rumah Kardjo, jika bapak berteriak-teriak ingin membunuhku.

***

Di komplek perumahan sederhana. Sebuah rumah dicat abu-abu dengan halaman luas ditumbuhi pepohonan. Alpukat yang sedang berbunga dan mangga yang mulai berbuah. Beranda yang luas, mengingatkanku pada masa kanak-kanak yang indah. Orang-orang berdatangan dengan baju putih, baju hitam berkerudung dan berkopiah. Mereka berwajah murung, dan yang lainnya menangis, sambil bertahlil. Berdoa panjang.

Aku memasuki rumah itu dipapah Kardjo. Orang-orang menatapku iba, mereka berbisik-bisik. Sekilas kudengar pembicaraan mereka di sela-sela tahlil. “Anak muda yang malang, tapi dia punya seorang ibu yang hebat, Semoga dia tenang sekarang.”, “Lelaki itu membunuhnya, semoga dia busuk di penjara.”
Aku tak berani menyimpulkan sesuatu, aku terlalu pengecut. Pandanganku menyapu setiap sudut. Sebuah foto keluarga yang tampak bahagia di pajang di tengah dinding. Seorang bapak, anak laki-laki, anak perempuan yang lebih tua dari anak laki-lakinya, perempuan yang sudah sepuh dan perempuan bermata bening. Di lantai terbentang karpet sampai ke ujung ruangan. Ibu-ibu pengajian dan bapak-bapak duduk di atasnya. Sebagian aku kenal tapi selebihnya tidak.

Seorang perempuan, dengan kerutan di seluruh wajahnya, tubuhnya bungkuk disangga tongkat, dia menghampiriku. Meraba wajahku dengan kedua tangannya. Kemudian menitikkan air mata. Pun aku, sesuatu yang hebat memporak porandakan dadaku Aku tak lagi kuasa, semua yang melaut di ceruk mataku tumpah.
“Kemarilah nak,” Kata perempuan tua itu. Dia mendekatkanku kepada sesosok tubuh kaku yang ditutupi kain putih.
“ Kau mau melihat wajahnya?” Aku mengangguk, sambil mencoba meredakan degup jantungku yang semakin kencang. Dibukanya penutup wajah seseorang yang terbaring itu.
“Dia sudah tenang, dia sudah melindungimu dari kejahatan bapakmu sepanjang hidupnya. Kini kau bebas dan dia pergi untuk memerdekakan diri. Berdoalah untuknya.”
Untuk terakhir kali aku melihat senyumannya, membawaku pada keheningan negeri yang asing, hanya ada padang savana tanpa mega. Aku merasakan kedamaian yang tak bisa dirumuskan oleh kata-kata di kehidupan nyata. Tapi mata indahnya yang bening, tak lagi sempat aku lihat.

S e l e s a i.

 

 

 

 

*Pernah diposting di cerpen-kita.weebly.com Tahun 2012