Tanpa terasa, tiga bulan sudah Arun menjadi siswi SMP. Dia sudah bukan anak-anak lagi. Arun tumbuh menjadi remaja yang manis dan ramah. Ibu Suni pun sepertinya menyadari hal itu. Beberapa kali Arun memergoki ibunya memandanginya ketika dirinya tidur.

“Kenapa, Bu?” kata Arun kaget.

“Tidak apa-apa. Ibu suka melihat kamu tidur,” katanya rikuh.

Ah, Ibu mau Arun temani tidur?”

Dia pun tersenyum dan berbaring di samping Arun. Ibunya memang tidak lagi segalak dulu. Sekarang dia lebih banyak diam dan terlihat lebih murung. Beberapa kali Arun bertanya perihal sikap diamnya, tetapi Bu Suni tetap saja tidak mau menjawab.

Pernah suatu sore, Arun mendengar tetangga berkata bahwa mereka akan diusir dari kontrakan karena menunggak terlalu lama. Tetapi anehnya, ketika Arun menanyakan kebenaran berita tersebut, ibunya hanya diam dan menyuruh Arun untuk tidak mendengarkan apa kata tetangga.

Sebenarnya, Arun sangat heran dengan perubahan sikap ibunya. Apa yang menyebabkan ibunya menjadi begitu pendiam dan seringkali memperhatikan wajahnya. Mungkinkah karena himpitan ekonomi atau ada hal lain yang menggangu pikiran ibunya, Arun tidak pernah tahu.

***

Malam itu begitu sunyi. Rintik hujan pun terdengar sangat jelas dan Arun tertidur begitu lelap. Sementara itu, ibunya masih terjaga sambil sesekali terlihat mengintip ke luar jendela. Dia seperti sedang menanti seseorang. Beberapa kali dia tampak mondar-mandir di depan pintu.

Tidak berapa lama, terdengar suara pintu diketuk perlahan. Seorang laki-laki bertubuh tegap dengan otot yang menonjol memasuki rumah Bu Suni dan langsung menuju kamar tidur. Dengan tergesa, Bu Suni pun menutup pintu dan mengikuti laki-laki itu ke kamarnya.

Tidak ada yang tahu apa yang terjadi malam itu. Lelaki itu pun keluar ketika hari masih gelap dan semua orang terlelap dalam tidur. Dia berjalan mengendap-endap di dalam gelapnya malam. Dan kamar Bu Suni pun senyap dengan lampu yang temaram.

***

“Bu, Arun pergi sekolah, ya,” teriak Arun dari balik pintu kamar ibunya yang masih tertutup.

Sejak dua minggu lalu, ibunya memang selalu bangun siang. Ini karena Ibu Suni tidak banyak mengambil pekerjaan dari tetangganya lagi. Beberapa orang sudah ada yang mempunyai mesin cuci dan hanya beberapa orang saja yang masih memberinya pekerjaan menyeterika.

Hari itu Bu Suni tampak begitu rapi, berbeda dari biasanya. Dia terlihat lebih segar dengan polesan riasan tipis di wajahnya. Rambutnya dibiarkan tergerai dan senyumnya merekah.

Matahari pun sudah tidak terlalu terik. Ibu Suni mengintip ke arah jalanan melalui jendelanya. Dari kejauhan, tampak Arun berjalan dengan wajah lesu. Badannya sedikit terbungkuk dan kepalanya tertunduk.

“Arun…,” katanya sambil membukakan pintu.

“Ibu mau ke mana?” tanyanya sambil memperhatikan dandanan ibunya yang tidak biasa.

“Ayo, cepat, kamu mandi! Kita mau ada tamu,” katanya sambil meraih tas dari pundak Arun

“Siapa, Bu?” tanya Arun dengan kening mengernyit.

“Nanti juga kamu tahu,” katanya lagi sambil mendorong tubuh putrinya ke arah kamar mandi.

Menjelang Isya, tamu yang dinanti pun tiba. Laki-laki bertubuh tegap dengan otot yang menonjol di lengannya. Kulitnya sawo matang dengan rambut model tentara. Senyumnya ramah dan bicaranya santun. Pakaiannya sangat rapih dan wangi.

Ibu Suni mempersilakan tamunya masuk dan duduk di atas sofa yang sudah sobek di sana-sini. Arun pun duduk di sebelah ibunya dengan penuh tanda tanya. Selama ini mereka tidak pernah kedatangan tamu.

“Arun, ini Pak Rudi. Mulai malam ini, Ibu bekerja di tempatnya Pak Rudi,” kata Bu Suni sambil tersenyum.

“Ibu sudah dapat pekerjaan?” tanya Arun dengan mata membelalak.

“Iya, Arun. Ibumu kerja di hotel saya. Dan kamu boleh ikut Ibu kerja,” kata Pak Rudi sambil tersenyum ke arah Arun lalu melirik ke arah ibunya.

Malam itu pun, mereka berjalan menuju mobil yang sudah sejak tadi menunggu mereka di depan gang. Beberapa tetangga masih tampak di teras dan memandang heran Arun, Bu Suni serta tamunya itu. Terdengar mereka pun berbisik sambil matanya melirik ke Arah Bu Suni. Bu Suni pun setengah Tergesa berjalan sambil menarik Arun. Sementara Pak Rudi terus berjalan tanpa peduli tatapan orang-orang. Di dalam mobil sudah menunggu seorang laki-laki bertubuh kekar dengan badan yang dipenuhi tato.

Arun sedikit ketakutan tetapi ibunya terus mendorong dia untuk segera naik ke kendaraan yang terparkir di ujung gang. Pak Rudi tersenyum ke arah Arun yang terlihat ragu. Perlahan, dia pun mendekat dan mengusap punggung gadis kecil itu.

“Tidak apa-apa. Mereka baik, kok,” katanya.

Dengan rasa takut, Arun akhirnya masuk ke mobil itu. Sementara ibunya terlihat sangat tenang. Sesekali, dia pun bersenda gurau dengan Pak Rudi. Sepertinya mereka sudah kenal sejak lama. Arun terdiam dengan tubuh gemetar. Entah kenapa dia merasa seperti ada sesuatu yang janggal dengan sikap ibunya malam ini.

Ibu tidak sedih lagi, batinnya.

“Arun, kamu gak usah takut. Ibu sudah kenal Pak Rudi ini sejak lama,” bisiknya sambil memeluk Arun. Dan Arun masih saja terlihat ketakutan. Dia benar-benar tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi dan kemana tujuan mereka.

Tidak berapa lama, mereka akhirnya tiba di sebuah hotel yang cukup besar. Belum pernah Arun memasuki bangunan semegah itu. Dengan wajah takjub, Arun berjalan perlahan sembari menggenggam tangan ibunya.

Beberapa penjaga keamanan menggangguk penuh hormat kepada Pak Rudi juga Bu Suni. Para pekerja pun tersenyum ramah dengan badan sedikit membungkuk ketika memberi salam pada mereka.

“Bu, ini tempat kerja Ibu?” Bisik Arun.

“Iya…, bagus, ya, Run,” katanya sambil merengkuh bahu Arun.

Kemudian mereka pun masuk ke sebuah kamar yang begitu besar. Tempat tidur yang kokoh dengan ruangan yang harum akan wewangian bunga. Seprai dan selimutnya pun lembut dan wangi. Lemari yang sangat besar dengan cermin pada setiap pintunya. Arun terpukau dengan apa yang dilihatnya. Hilang sudah rasa takutnya ketika melihat semua itu.

Arun kemudian berlari ke arah kamar mandi. Semuanya serba putih dengan bathtub yang berukuran besar, cukup untuk dua orang. Arun belum pernah melihat semua kemewahan itu sebelumnya.

“Kamu suka?” kata Pak Rudi yang tiba-tiba saja muncul di belakangnya.

“Iya, Pak. Bagus sekali. Kamar ini lebih besar dari rumah kami,” katanya dengan mata berbinar.

“Arun…,” ujar Bu Suni yang sejak tadi memperhatikan tingkah anaknya dari balik punggung Pak Rudi.

“Bu, Arun suka di sini,” ucapnya sambil menari dan berlari kesana-kemari dengan senyum yang semringah.

“Arun, kamu boleh tinggal di sini sementara Ibu kerja. Kamu harus berani sendiri, ya,” ucap ibunya dengan suara agak bergetar. Tatapannya tampak pilu dan wajahnya seperti menyembunyikan kesedihan yang begitu dalam.

“Nanti Ibu jemput Arun, kan, Bu?” tanyanya sambil menatap wajah ibunya.

“Ibu janji akan jemput kamu.” Dipeluknya Arun dengan erat seolah-olah itu adalah pelukan terakhir. Arun pun membalas memeluk ibunya dengan rasa bahagia. Sedikit pun Arun tidak melihat titik air mata ibunya yang buru-buru diseka oleh punggung tangannya.

Setelah ibunya pergi, Arun kembali meraba semua barang yang ada di kamar itu. Diciuminya satu per satu kemewahan yang dia rasa bagaikan mimpi itu. Arun membayangkan dirinya sebagai seorang putri cantik yang tinggal di kamar ini.

Dibaringkan tubuhnya di atas kasur yang sangat empuk lalu dia beranjak menuju kamar mandi. Ditatapnya bathtub dengan bentuk yang seperti kolam renang kecil. Dinyalakannya keran, dan perlahan air pun memenuhi bathtub.

Perlahan, dia lepaskan bajunya satu per satu, dengan hati-hati dia pun mmemasukan kakinya ke dalam air. Arun pun tertawa bahagia sambil memainkan air dengan limpahan busa yang menutupi tubuhnya. Dia tertawa dan tertawa. Beberapa kali dia menenggelamkan dirinya seolah-olah dia berada di lautan lepas.

Malam itu Arun begitu bahagia. Setelah puas mandi, dia meneteskan wewangian yang tersedia ke tubuhnya. Alhasil, wangi menyengat pun tercium dari tubuh mungilnya.

Malam sudah larut. Hanya dengan berpakaian baju mandi, Arun pun membaringkan tubuhnya di atas kasur dengan suara televisi yang sedikit nyaring. Belum pernah dia melihat televisi sebesar itu. Pelan-pelan dia mulai memijit remote televisi dan  mengganti saluran demi saluran.

Tidak berapa lama, Arun akhirnya tertidur. Tubuhnya lelah namun jiwanya bahagia bukan main. Dia pun bermimpi menjadi penghuni kamar itu, selamanya. Wajahnya tersenyum manis sekali. Terdengar dengkuran halus dari mulutnya yang kecil.

Arun tidak pernah tahu jika ada seorang laki-laki yang sejak tadi sudah menunggunya tertidur tanpa daya. Beberapa kali dia melirik jam tangannya. Dia tampak gelisah sekaligus tidak sabar untuk memasuki kamar itu.

Sementara itu, Bu Suni sudah pergi bersama centengPak Rudi. Entah ke mana, yang pasti dia pergi dengan segepok uang di dalam tasnya. Mulutnya terbungkam, matanya hampa menatap jalanan yang amat sepi. Dia pun terlihat lebih gelisah daripada laki-laki yang menunggu di depan kamar Arun.

Laki-laki itu akhirnya memasuki kamar di mana Arun tidur. Nyaris mengendap-endap, dia mendekati tempat tidur. Dipandanginya lekat-lekat gadis kecil yang baru saja menginjak usia remaja itu. Perlahan, dia pun mulai melepaskan pakaiannya satu per satu. Senyumnya menyeringai seperti serigala yang siap memangsa korbannya.

Malam itu hujan turun begitu lebat. Langit gelap. Bahkan bulan pun enggan menampakkanya dirinya. Hanya bunyi petir dan gemuruh guntur yang saling bersahutan. Arun pun terbangun akibat impitan yang begitu menyesakan dan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Sementara laki-laki yang mempunyai senyum ramah itu terus memuaskan nafsunya tanpa sedikit pun peduli akan rintihan dan air mata gadis kecil itu.

Beberapa kali Arun mencoba meronta tetapi tangan laki-laki itu lebih besar darinya. Ketika Arun berusaha berteriak, secepat kilat laki-laki itu membungkam mulutnya dengan telapak tangannya yang besarnya, hampir menyamai besar wajahnya. Arun menangis dan menjerit menahan rasa sakit yang menghantam seluruh tubuhnya.

Ibu, tolong aku, Ibu…!

Tetapi rintihannya terlalu lemah untuk didengar. Arun terkulai lemas dan air matanya membasahi wajah serta kasur di mana laki-laki itu telah merenggut harga dirinya. Tiba-tiba saja dia merasa dunia sangat gelap dan hitam pekat. Perlahan, matanya tertutup dan dia pun pingsan.

Malam itu hanyalah awal dari semua penderitaannya. Dan pelukan itu adalah perpisahan terakhir dari pembunuhan jiwanya. Ibunya tidak lagi terlihat di dekat Arun. Dia menghilang seperti ditelan bumi.

***

Arun tidak pernah mengerti apa yang terjadi semalam. Yang dia ingat adalah dia terbangun di rumah kontrakannya dengan sakit di sekujur tubuh dan darah yang masih melekat di celananya. Ketika matanya terbuka, dia melihat amplop coklat tebal yang terlihat baru dan penuh.

Arun mencoba berpikir apa yang sudah dialaminya. Dia menangis memanggil ibunya tetapi rumah itu kosong. Ibunya pergi entah ke mana. Dan Arun tidak pernah tahu bahwa laki-laki bertato yang ditemuinya di mobil itulah yang membawanya pulang kembali. Dan uang itu adalah hadiah dari Pak Rudi, laki-laki yang mempunyai senyum ramah.

***

Hari berlalu, Arun seperti kehilangan akal. Dia tidak lagi pergi ke sekolah. Beberapa temannya datang berkunjung tetapi dia tidak mau menemui satu pun dari mereka. Tiap hari, Arun hanya mematut dirinya di depan cermin lalu menangis sambil memanggil ibunya.

Tidak satu pun dari tetangganya mengetahui tentang keadaan Arun. Beberapa kali Arun keluar rumah hanya untuk membeli makanan di warung depan gang. Setelah itu, dirinya pun kembali ke rumahnya dan mengunci pintu.

Arun masih terlalu muda untuk memahami semuanya. Dia tidak mengerti perasaan ternoda. Yang dia tahu hanyalah rasa sakit di tubuhnya dan kerinduan akan ibunya. Beberapa kali Arun menatap uang yang sedikit demi sedikit diambilnya dari amplop itu. Uang itu yang dibawanya setiap hari ke warung nasi. Uang itu yang dipakainya untuk membeli sabun dan membasuh tubuhnya.

Beberapa tetangga yang bertanya tentang ibunya selalu dia jawab, “Ibu bekerja di rumah besar.” Kemudian dia meninggalkan orang yang bertanya dengan wajah bingung dan penasaran.

Amma pun sempat datang beberapa kali dan bertanya perihal perilaku Arun yang berubah dan alasannya berhenti sekolah.

Aku mau menunggu Ibu. Kalau aku sekolah, nanti siapa yang buka pintu untuk Ibu.”

Sejak itu, Amma memandang Arun sebagai makhluk aneh yang mengerikan. Dia tidak lagi bercerita kepada Arun tetapi dia menceritakan kisah Arun kepada teman-teman lainnya.

***

Tahun demi tahun berlalu. Arun kini bukan lagi gadis kecil. Dia tumbuh menjadi wanita muda yang sangat cantik. Tubuhnya sintal dan kulitnya halus. Dia masih tinggal di kontrakan itu. Hanya saja, kali ini rumah itu berisi perabotan bagus dan mahal. Tidak ada yang tahu apa pekerjaan Arun. Dia selalu pergi beberapa hari dan ketika pulang, dia akan pergi berbelanja dan selalu tertawa.

***

Hari masih terlalu pagi. Ayam berkokok bergantian. Dari ujung gang terlihat seorang perempuan tua dengan pakaian yang sangat lusuh. Rambutnya berantakan dan kulitnya keriput. Dia mengapit tas hitam yang sudah rombeng. Dia berjalan bergegas ke arah rumah Arun.

Perlahan diketuknya pintu rumah itu. Arun masih terlelap, dia baru saja kembali setelah seminggu pergi. Kembali diketuknya pintu itu, dan wanita tua itu tampak gugup.

“Arun…,” bisiknya pelan. Arun pun terusik dengan suara parau wanita tua itu. Lama dia tertegun mencoba memastikan pemilik suara itu.

“Arun…!” panggilnya kembali. Lalu, Arun pun bergegas menuju pintu depan. Disibakannya gorden yang masih tertutup rapat.

“Ibu…?!” desisnya dengan mata yang berbinar bahagia. Dengan segera, dia membuka pintu lalu memeluk erat ibunya.

“Arun, maafkan Ibu,” katanya sambil tergugu dan memeluk Arun.

Perlahan, Arun pun membimbing ibunya memasuki ruang tengah. Di luar orang sudah lalu-lalang dan matahari pun sudah tampak.

“Ibu, kenapa begitu kurus?” tanyanya sambil menelusuri setiap jengkal tubuh ibunya.

“Ibu tidak apa-apa. Ibu hanya lelah,” jawabnya sambil tersenyum dan mengusap pipi Arun.

“Arun buatkan Ibu minum, ya,” katanya sambil berlalu ke arah dapur.

Perasaan Arun berkecamuk. Kemarahan yang sekian tahun dia pendam akhirnya saling berlomba untuk keluar. Dan dengan sekuat tenaga dia tahan amarah itu. Kembali, bayangan malam itu saling berlesatan di dalam benaknya. Dendam juga kecewa semakin bergemuruh seiring adukan teh manis yang Arun buatkan untuk ibunya. Hidupnya tidaklah berbeda dengan air itu, manis dan bergejolak.

Sesekali matanya melirik ke arah ruang tengah di mana ibunya tampak semringah melihat seisi rumah Arun. Semua barang disentuhnya dan dia tersenyum. Arun tertawa sinis. Perlahan, dibukanya laci lemari di mana dia menyimpan rapi seluruh perkakas dapur, termasuk pisau yang mengkilat.

Bu suni tampak puas dengan apa yang dilihatnya. Perabotan yang bagus dan anak gadisnya yang tampak begitu cantik. Tubuh yang berisi dan wajah yang sangat mulus. Dielusnya perlahan lemari serta sofa yang masih tampak baru. Ditatapnya televisi besar yang terpampang di depannya.

“Arun, kenapa kamu tidak pindah dari sini?” tanyanya setengah berteriak kepada Arun yang sedang membuatkan teh untuknya.

“Aku tidak mau ketika Ibu pulang, aku tidak di rumah,” katanya sambil berjalan ke arah Bu Suni lalu menyodorkan teh yang masih panas.

“Arun…,” panggilnya sambil perlahan mendekati anak gadisnya.

“Bu, istirahat saja. Tidak usah Ibu jelaskan apa pun kepada Arun,” katanya sambil meraih tubuh ringkih wanita tua itu.

“Ibu ingin kamu bahagia, Run,” katanya lirih dan memeluk erat Arun. Diciuminya rambut serta tubuh anaknya yang memancarkan wangi bunga.

Beberapa pasang mata melirik ke arah mereka. Arun membiarkan pintu terbuka lebar sehingga orang yang lalu-lalang bisa dengan mudah melihat jelas apa yang terjadi di sana. Beberapa tetangga sengaja berhenti dan berbisik. Entah apa yang mereka bicarakan.

Arun pun membiarkan ibunya memeluk dirinya. Bu Suni terus meracau tentang kebahagian. Tentang impian Arun dan tentang harapan yang selalu tersimpan di benaknya, hidup bahagia tanpa hinaan tetangga atau ketakutan diusir karena tidak mampu membayar kontrakan.

Arun hanya tersenyum sementara matanya menerawang jauh. Perlahan, dirabanya saku baju tidurnya. Rasa dingin pun membuat matanya semakin nanar ketika dia menyentuh pisau yang telah disiapkannya.

Bu Suni masih meracau dan Arun semakin erat memeluk ibunya.

“Bu, Ibu tahu kan kalau Arun sayang Ibu?” tanyanya sambil terus memeluk ibunya.

‘Ibu tahu, Run … Ibu tahu kamu anak yang baik,” katanya sambil mencoba melepaskan pelukan anaknya. Tetapi Arun memeluknya semakin kuat.

“Bu, izinkan Arun memeluk Ibu lebih lama lagi. Arun sayang Ibu.” Seketika itu juga, Arun meraih pisau yang diselipkannya di bajunya. Dengan pelukan yang begitu erat, dihujamkannya pisau itu berulang kali ke punggung ibunya. Jeritan pun terdengar hingga ke ujung jalan raya.

Pagi itu semua orang dikagetkan oleh suara lengkingan kemarahan perempuan muda diiringi kematian ibu tercintanya. Bu Suni mati dalam pelukan anaknya. Dengan tubuh berlumuran darah dan seringaian senyum Arun.

Orang-orang pun berkerumun. Arun hanya tertegun dengan pisau di tangannya. Senyumnya tersungging dari bibirnya. Saat itu juga tawanya pecah dan dia menatap mayat ibunya lekat-lekat. Beberapa orang kemudian mundur menjauh dengan wajah ketakutan, sebagian berlari tunggang-langgang.

Beberapa berteriak memanggil polisi. Dan sebagian berlari menuju rumah sakit terdekat.

Tak berapa lama, tidak hanya polisi yang berdatangan, tapi juga perawat dan tetangga sekampung. Pagi itu, Gang Seroja menjadi sangat sesak dan kelam.

“Aku tidak membunuhnya tetapi aku membebaskan jiwanya dari keserakahan dan penderitaan,” ucapnya ketika gemuruh tuduhan pembunuh dilontarkan oleh para tetangga dan orang-orang yang berdatangan pagi itu.

Pagi yang cerah itu berakhir dengan iringan polisi dan tetangga serta Arun yang tidak hentinya tersenyum. Jiwanya bebas dan kemenangan telah diraihnya. Kepuasaan terpancar dari wajahnya. Arun bahagia tetapi mereka menyebutnya “gila”.[]

 

 

Diambil dari salah satu cerpen dalam buku kumpulan cerpen MAHAR karya Krismarliyanti.

__________

Krismarliyanti adalah anak kedelapan dari sembilan bersaudara yang lahir pada tanggal 7 maret 1981 di Rangkasbitung, Banten. Menginjak usia satu tahun, ia beserta keluarga tinggal di Sukabumi, Jawa Barat. Masa kecil hingga remaja pun dihabiskannya disana. 

Memasuki usia dewasa, penulis pun memutuskan untuk kuliah di jurusan sastra Inggris, Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta. Di kota inilah ia mulai mengenal dunia sastra dan juga seni teater lebih jauh. 

Tahun 2006 ketika gempa besar menimpa Yogyakarta, Krismarliyanti berpindah ke Jakarta dan bekerja di sebuah perusahaan swasta. Kerinduan tentang dunia sastra dan seni terus menghantuinya, hingga akhirnya ketika ia menyelesaikan gelar magister pendidikan di Universitas Pelita harapan, menjadi penulis pun merupakan pilihannya. 

Pada tahun 2007, salah satu karya puisinya dimuat di buku Medan Puisi, antologi puisi Sempena the 1st International poetry Gathering yang diadakan di Medan. Pada tahun 2016 buku kumpulan puisinya yang berjudul Poetry Anthology Lentera, telah terbit. Beberapa dari puisi dan cerpennya juga telah dimuat di harian lokal dan antologi bersama.

Dengan dukungan penuh dari suaminya, Ia pun tidak hanya menekuni dunia menulis. Seni rupa mulai dirambahnya sejak tiga tahun yang lalu. Hasil karyanya telah dijadikan sebagai cover dan ilustrasi di buku antologi pertamanya.