https://www.latimes.com/

“Delisha, bisakah kau segera menyelesaikan cerpenmu itu? Aku ada pertunjukan musik jam 12.10 nanti,” keluh Dania pada saudara kembarnya, Delisha.

“Kau lupa jika jatah waktuku sampai pukul 12.00? Lagipula masih ada seperempat jam lagi sisa. Jika kau tidak bisa menungguku, ya pergi saja duluan,” jawab Delisa sedikit emosi, pasalnya ruangan kerja Delisa sedari sejam lalu terasa ramai oleh Omelan Dania. 

Hiksss Hiksss

Delisha segera menolehkan kepala pada Dania. Saudarinya menangis. “Jika saja aku bisa, Sha. Jika saja kita bisa. Tapi kita selalu terikat.”

Delisha mengusap wajahnya kasar, ia kelepasan tadi. Dania dan Delisha adalah saudara kembar identik dengan kelainan siam omphalagus. Omphalagus ialah keadaan ketika bayi terlahir kembar dengan tubuh menyatu pada bagian dada ke bawah, biasanya sistem hati dan pencernaan tunggal. Untuk kasus Dania dan Delisha, mereka hanya memiliki ginjal dan hati tunggal. Jangan tanya berapa kali operasi pemisahan tubuh dicoba oleh kedua orang tua mereka, hanya saja hati yang mereka miliki mengalami kecacatan, sehingga mustahil jika tubuh mereka dipisah karena akan berakibat fatal.

Dania menangis sejadi-jadinya di dalam pelukan Delisha. Ia ingin bisa bebas berlarian ke mana pun ia mau, tanpa merepotkan Delisha. Ingin mengenakan baju model keluaran terbaru, tanpa harus berbelit memesan penjahit langganan keluarga karena tak satu pun branded yang menyediakan baju bagi penderita kembar siam. 

“Maafkan aku, Dan. Aku bodoh,” Delisha masih mengelus punggung saudarinya itu dengan penuh sayang. 

Hampir seperempat jam Dania menumpahkan air matanya pada bahu Delisha. “Oh come on kita ke lokasimu. Aku akan meminta Sarah untuk menyelesaikan sisanya.”

Dania mengangguk patuh. Kedua saudari itu pun mulai melangkah beriringan dengan sebilah tongkat di tangan masing-masing guna menjaga keseimbangan mereka. 

***

Once man say

Only fools rush in

Cause i cant tell 

Fallin’ in love with you…

Dania menyanyikan lagu Haley Reinhart itu dengan suara serak basah khasnya. Konser diadakan di Trans Mart Bandung, tepatnya di lantai dasar. Penonton berjejalan berebut tempat untuk menyaksikan Dania dari dekat. Masing-masing mengabadikan momen ini dengan ponsel mereka. Dania senang sekali melihat antusiasme mereka.

 Berbeda dengan Dania, Delisha terlihat begitu risau. Pasalnya ia adalah sosok introvert, ia tidak menyukai keramaian dan lebih menyukai sunyi untuk menjadi teman setianya untuk menulis novel karangannya. Jika disuruh memilih, ia lebih rela dikurung di gudang selama seminggu dari pada harus berbaur dengan keramaian selama satu jam. Jika Dania disebut sebagai pengendali melodi, maka Delisha disebut pengendali pena. Lima tumpuk novel karya miliknya patut menjadi kebanggaan tersendiri. Tapi apalah daya, ketenaran Dania sebagai penyanyi membuatnya harus mengikuti sang kembaran dari satu panggung, ke panggung lain, dari satu cafe ke cafe lain. 

Band milik Dania memang belum sampai ke layar kaca, baru diundang dari satu cafe ke cafe yang lain. Tapi, penggemar mereka cukup banyak, pasalnya suara Dania memang sangat pas untuk menyanyikan semua genre lagu. Apalagi Dania sangat pintar berias dan bermain fashion, sehingga penggemar semakin terpana dibuatnya. Dania menyebut penggemarnya itu dengan sebutan ‘LavDania.’ Lav Dania samakin terpesona dengan perempuan itu karena ia tak pernah malu untuk tetap berkarya walau dengan kondisi bagian dada ke bawah yang selalu menempel dengan saudarinya, Delisha.

Usai pertunjukan, Dania merengek untuk pergi ke studio musik milik bandnya. Sebab, menurut Edwin, manajer Band milik Dania, akan ada seorang produser TV yang akan mengundang mereka ke Melodi. Melodi ialah salah satu program di RCTI TV yang cukup terkenal di Indonesia, ia semacam ajang talk show yang mengundang remaja berbakat di Indonesia. Siapa pun yang berhasil diundang dalam acara itu, sudah pasti akan semakin dekat dengan kata ‘viral’ saking terkenalnya acara itu.

“Ambil dong. Gila banget disia-siain,” pekik Dania girang. 

Edwin menggaruk tengkuknya sebentar. Ia senang saja dengan prestasi anak didiknya itu, tapi ia juga tidak boleh egois dengan Delisha. Perempuan itu terlihat tidak nyaman mendengar kabar dari Edwin. 

“Delisha gimana? Kamu bisa kan kosongin jadwal kamu di penerbitan?” 

“Berapa lama acaranya? Kapan?”

“Senin depan. Di stage-nya setengah hari doang si. Tapi prepare-nya sekitar tiga hari-an.”

Yasmin menggulir ponselnya, berharap tidak ada jadwal penting pada hari itu. Keningnya mengerut melihat berapa padatnya jadwal miliknya Minggu depan. “Aku ada klien dari Rao Entertainment, mereka mau ngadain seleksi buat ngangkat novelku ke film.”

“Terus kamu mau bilang kalo novel kamu itu lebih penting dari acara aku?” sentak Dania dengan penuh emosi. 

“Dania, itu udah fix. Dan kemungkinan berhasilnya udah 80%.”

“Kamu kira aku belum fix?!”

“Lagian kemarin kita udah bikin kesepakatan. Kemarin aku cancel bedah buku aku di Karawang karena kamu ada konser di Surabaya, dan kamu janji bakal ganti waktu aku. Then, i think i wanna take it for now. Ini mimpi aku sejak lama, Dan,” ucap Delisha dengan nada dibuat setenang mungkin. Ia tidak mau terbawa emosi sehingga membuat saudarinya itu sakit hati. 

“Delisha, ini lebih dari hidupku, sungguh. Aku nggak bisa melepaskannya. Gini, deh kalo aku berhasil tenar, pasti novel kamu itu kemungkinan diliriknya besar. Aku bakal cariin produser film yang paling top buat kamu. Dan aku akan bikin dia gimana pun caranya buat nerima novel kamu.”

“Sampai kapan kamu bakal ngehina karya aku terus-menerus, Dan? Dari pada harus sukses karena perantara kamu, lebih baik novel aku tetap tersimpan di laptop tanpa jadi buku sama sekali.”

Dania menjentikkan jarinya. Ia sama sekali tidak menyadari sindiran yang Delisha siratkan dalam ucapannya. “Great! Secara nggak langsung kamu udah membatalkan acara kamu besok Senin.”

“Apa maksud kamu?”

“Membiarkan novel kamu di laptop kan? Yaudah. Berarti Minggu depan acara ku nggak bisa diganggu sama rapat sialan kamu itu,” putus Dania sembari menandatangani surat kontrak yang dibawa Edwin. 

Delisha menghela nafas kecewa. Selalu begitu. Selalu ia yang mengalah. Selalu ia yang harus minta maaf duluan. Selalu kepentingan Dania yang boleh jadi penting. Delisha ingin berlari dari studio itu sekarang juga rasanya. Tapi apa daya?

***

Ruang Rias Studio RCTI

Delisha dirias lebih cepat dibanding Dania, karena ia memang tidak menyukai iasan yang berlebih. Sembari menunggu Dania yang sedang dirias dibalik tirai. Bosan menunggu, fokus menatap tingkah polah spongebob dan makhluk air lewat layar ponselnya. Sesekali ia tertawa melihat adegan konyol mereka. 

“Woah! Aku pikir cuma diriku yang masih menyukai makhluk kuning itu sampai dewasa,” seru Nares tepat di samping Delisha. 

Delisha yang malas menanggapi akhirnya hanya merespon dengan lirikan tajam. “Aku tidak suka diajak bicara saat nonton. Tolong tenanglah sedikit.”

“Unik juga,” puji Nares di dalam hati. Selama 25 tahun ia hidup di dunia yang indah ini hanya dua orang yang berani mengabaikannya. Ialah Roy, kakaknya dan perempuan ini. 

“Langit Darensi Nareswara,” ucap Nares penh percaya diri. Tak lupa senyum manis ia perlihatkan guna menambah aura ketampanannya. Biasanya jika Nares sudah tersenyum begini, maka perempuan mana pun akan langsung tunduk kepadanya. Namun, nampaknya Delisha sama sekali tidak terpengaruh. Sebab, ia hanya menjawab uluran tangan Nares dengan tatapan sekilas nan super dingin. 

Nares menghembuskan nafas kasar atas penolakan Delisha, “Apakah makhluk kotak kuning itu lebih mempesona dibandingkan diriku?”

Delisha menoleh ke Nares. Ia memandang Nares selama hampir 5 detik. “Tentu.”

“Oh, baiklah. Kau sukses membuatku kesal, Nona Alamanda.”

Bella menoleh ke Nares, dahinya mengerut. 

“Biar ku tebak, pasti hatimu berkata ‘Dari mana cowok ganteng ini tahu namaku?’ ” ucap Nares sembari menirukan suara khas spongebob.

Nares kemudian merebut ponsel Dekisha dan menunjukkan sesuatu di sana, “Here your name, Nona Delisha Alamanda.” 

Delisha mengerucutkan bibirnya, ia kesal pada Nares. Apalagi Nares dengan berani memanggilnya dengan nama belakangnya. “Jangan Alamanda. Di dunia ini tidak satu pun aku izinkan memanggilku dengan nama itu.”

“Kenapa?”

“Itu nama bunga. Aku nggak suka bunga.”

“Kenapa?”

“Karena bunga lemah. Mereka terikat, seperti aku,”  tercekat. Tiba-tiba moodnya kembali anjlok setelah agak baikan gara-gara hormon euforia dari film Spongebob. Bunga selalu bisa membuat perasaan Delisha berantakan.

“Terikat karena terpaksa maksudmu?” tanya Nares semakin penasaran. Bella hanya mengangguk singkat, kepalanya ia tengadahkan. Sedikit saja ia menunduk mungkin matanya sudah tak sanggup lagi membendung air mata. 

“Putuskan saja jika kau tak sanggup. Hubungan dengan ikatan itu baik adanya, tapi jika sudah menyusahkan ya tinggalkan. Semudah itu, dan..”

“Langit Darensi Nareswara!” seru seorang perempuan bertubuh gempal dengan wajah tegas. Nares mendengus sebal, ucapannya pada Bella belum selesai karena perempuan itu seenaknya memanggil namanya. 

“Iya, Miss Reta, manajerku yang udah nggak jomblo lima hari lalu,” jawab Nares dengan nada malas. 

Perempuan gempal itu menimpuk bahu Nares dengan tangan bergelambirnya. Anak asuhnya ini memang suka sekali menggoda dirinya. Tahu begitu dia tidak akan bercerita padanya soal ketidakjombloannya itu.

 “I’m looking for you till Antartika. Cepat baik ke studio sekarang, semua orang mencarimu. Jangan sampai reputasimu rusak karena keterlambatanmu,” omel Reta lanjang lebar. Ia segera menarik Nares keluar dari ruangan itu. 

“Lima menit lagi, please. Urusanku dengan Nona ini belum selesai,” pinta Nares malang. 

“No!”

“Alamanda, kita harus bertemu lagi!” seru Nares disusul dengan suara pintu yang dibanting dengan keras oleh Reta.

Delisha memandang kepergiang Nares lewat cermin di depannya. Lagi-lagi ia ditinggalkan. Meski begitu, lengkungan kecil khas senyuman tercetak pada bibirnya. Sebait rasa bernama nyaman menyelinap ke hatinya.

***

Panggung ini adalah panggung terbesar yang pernah dipijaki oleh si kembar. Dania menggenggam tangan Delisha erat-erat, ia tak hentinya berdecak kagum. Delisha turut senang karena akhirnya Dania bisa sampai di titik ini. Meskipun sebenarnya Delisha mati-matian menahan rasa tidak nyamannya berada di keramaian seperti ini. 

Acara berlangsung kurang lebih dua jam. Kini, si kembar tengah beristirahat di ruang crew. Para crew dengan senang hati mengajak mereka ngobrol sana-sini. Mereka sangat ramah, setidaknya tidak ada yang mencela kekurangan fisik Dania dan Bella. 

“Nares mau teh apa kopi?” 

Mendengar nama itu sontak membuat Delisha menoleh ke sumber suara. Didapatinya Nares baru saja mengistirahatkan diri di sofa seberang Bella. Bella gugup, ia tidak siap bertemu kembali dengan Nares dengan kondisi begini. Pada akhirnya Nares terlalu cepat mengetahui kecacatan Bella. 

Nares yang merasa diperhatikan pun langsung mengangkat kepala. Matanya sedikit membulat melihat Delisha di hadapannya. Yang lebih mengejutkan, Delidha  nampak duduk menyerong dengan pakaian bahkan tubuh saling berkaitan dengan perempuan di sebelahnya. 

‘Kembar Siam,’ batin Nares. 

‘Jadi ini maksud ucapannya tadi, ‘terikat’ lanjut Nares dalam hati. 

Delisha menunduk. Ia hafal betul adegan setelah ini, Nares akan menjauhinya. Senyum yang ia tampakkan di ruang rias tadi tak akan pernah Delisha temui lagi. Begitu adanya, jarang ada orang yang mau bertahan berteman dengan dirinya. Ia tidak se-multi talent Dania. Delisha hanya bisa mengendalikan pna, itu pun hanya tulisan fiksi bukan tulisan ilmiah yang membutuhkan banyak data. Belum lagi Delisha yang introvert sehingga sedikit membosankan jika mengajak perempuan itu ngobrol santai. 

Beruntung Edwin, manager Dania segera datang. Ia berpamitan pada seluruh crew untuk membawa Dania dan Delisha pulang. Adegan salam menyalami pun berlangsung sebagai formalitas perpisahan. Hingga tiba lah giliran Nares yang menyalamai Delisha. Nares menjabat tangan Delisha cukup lama sembari tersenyum, sebelum lepas ia membisikkan sesuatu di telinga Delisha, “Aku punya serial terbaru spongebob the movie, kamu mau?”

 

Delisha langsung saja mengangguk antusias. Senyum girang terukir di bibirnya. 

 

“Kalo gitu setelah ini buka WhatsAppmu, aku mengirimkan perjanjian list persyaratan supaya kamu bisa mendapatkan film itu,” bisik Nares jahil.

“Kenapa harus bersyarat?” 

“Karena aku sedang mencari-cari alasan supaya bisa berhubungan denganmu kembali.”

Jawaban Nares membuat rona di pipi Delisha menyembul tanpa tahu malu. Orang-orang yang melihat interaksi Nares dan Delisha pun langsung berbisik-bisik ria sembari menerka apa gerangan hubungan mereka berdua. 

***

“Gimana ceritanya kamu bisa kenal Kak Nares?” tanya Dania antusias. Pasalnya dia adalah penggemar berat seorang Langit Darensi Nareswara.

“Di tempat rias sih ketemunya.”

“Terus kok bisa akrab?”

“Emang kayak tadi udah bisa dibilang akrab ya?” tanya Delisha tanpa mengalihkan tatapannya dari layar ponselnya. Ia sedang sibuk membalas pesan dari Nares. 

“Iya lah. Kalo nggak akrab ngapain Nares ngajakin kamu nonton bareng padahal baru pertama kali ketemu.”

“Ah iya nih. Besok aku ambil waktuku buat nonton ya. Nggak di bioskop kok, di rumah aja,” ujar Delisha. 

Dania mengangguk antusias, “Btw, kenalin aku sama kak Nares, Del. Aku fans beratnya.”

“Emang Nares siapa?” tanya Delisha heran. 

“Ya ampun! Dia itu penyanyi terkenal. Nama panggungnya Langit. Kan aku sering tuh puter lagu dia. Masak kamu nggak sadar?”

“Oh, suara itu,” angguk Delisha. Delisha tiba-tiba saja merasakan debaran aneh memikirkan pertemuannya dengan Nares besok. Semoga semua berjalan lancar.

***

Delisha tersenyum melihat Nares yang datang sepuluh menit lebih cepat dari perjanjian mereka. Nares menyalami Delisha dan Dania secara bergantian. 

Delisha salah fokus karena pot kecil berisi kaktus yang Nares bawa saat ini.

“Buat apa bawa kaktus?” tanya Delisha geli.

“Buat kamu dong,” jawab Nares santai. 

“Masak kencan nggak bawa oleh-oleh,” lanjutnya sembari berbisik. 

“Kita kan nonton bukan kencan,” bisik Delisha. 

“Ya udah anggap aja ini nonton sekalian kencan,” jawab Nares enteng.

Mereka kemudian berjalan beriringan ke ruang keluarga. Dengan sigap Nares memasang DVD ke dalam alat yang sudah Delisha tata. Film pun dimulai, mereka bertiga laarut dalam lelucon konyol spongebob dan kawan-kawan. Sesekali Nares menimpali ucapan tokoh dengan menirukan gaya bicara mereka. Tolong, Delisha belum pernah merasa sebahagia ini sebelumya. 

Dua jam kemudian film usai. Mereka melanjutkan kegiatan dengan makan bersama. 

“Oh ya, Res. Ini Dania, saudari aku,” ucap Delisha. Ia nyaris melupakan janjinya kepada Dania untuk mengenalkannya pada Nares. Makannya sedari tadi Dania terlihat murung.

Nares yang humble segera merespon perkenalan itu, “Hay, Dan. Aku Nares. Pasti udah nggak asing lah sama aku.”

“Iya, Kak. Aku tahu banget loh soal kak Nares,” jawab Dania dengan antusias. 

“Langiter’s?” (Julukan untuk fans Nares)

“Iya. Aku udah lama banget ngefans sama kakak. Aku hampir hafal semua lagu kakak.”

“Wah, keren sih. Gimana kalo kapan-kapan kita duet bareng? Aku udah dengerin suara kamu pas di Melody kemarin. And it’s really wonderful voice I think,” tawar Nares. Ia akui bahwa suara Dania memang sangat renyah. Hmm, lalu bagaimana dengan Delisha ya? Apa dia juga punya suara emas seperti Dania?

“Wah! Aku mau banget, Kak! Kapan nih rencana?” 

Dan setelah itu percakapan hanya didominasi oleh Dania dan Nares. Mereka membahas bidang yang Delisha tidak terlalu pahami, yaitu musik. Sayangnya Delisha berada di tengah-tengah Dania dan Nares sehingga ia bingung sekali harus merespon bagaimana.Akhirnya ia memutuskan untuk membaca novel miliknya sembari memakan sandwich. 

Untung saja ponsel Dania berdering, sehingga mau tidak mau perempuan itu harus menjeda obrolannya dengan Nares. Nares merasa bersalah karena membiarkan Delisha tersisihkan dari obrolan tadi. Mau bagaimana lagi, Dania begitu mengerti dunia musik yang Nares geluti, ia juga sangat responsif sehingga sulit bagi Nares untuk mengajak bicara Delisha. 

Merasa diperhatikan, Delisha akhirnya menoleh ke arah Nares. “Ada apa?”

“Aku masih ada serial spongebob the movie yang ke dua. Nonbar lagi mau?” tanya Nares penuh harap. 

“Mungkin. Tapi nggak di waktu dekat ini. Aku lagi cukup sibuk buat ngehabisin waktu buat kegiatan yang nggak manfaat.”

“Jadi apa yang kita lakuin tadi bikin kamu nggak nyaman?” Delisha mengedikkan bahu dengan ekspresi datar. Rasanya kesal sekali karena Nares agak mengabaikannya tadi.

Nares nampak tersinggung, “Maaf. Aku akan pikir kamu suka. Aku pamit kalo gitu.”

Nares pergi begitu saja tanpa senyuman sedikit pun pada wajahnya. Delisha menggigit bibirnya dengan resah. Sungguh ia tidak bermaksud menyinggung dirinya. Ia hanya tidak bisa mengontrol kekesalannya terhadap Nares dan Dania.

“Loh, Kaka Nares kok udah balik?” tanya Dania dengan wajah cemberut.

“Ada kerjaan,” jawab Delisha sekenanya.

“Del. Aku sama Nares kok langsung nyambung gitu ya kalo ngobrol. Mana dia kalo natap aku rasanya kek hangat banget. Mungkin nggak ya kalo dia suka sama aku?” ujar Dania penuh harap. 

Kekesalan Delisha bertambah dua kali lipat. Pertama ia sudah ksal dengan keakraban Nares dan Dania yang begitu cepat. Ke dua, entah mengapa hatinya terasa sangat dongkol mengetahui kekaguman Dania pada Nares. Dania begitu multi talenta, jadi bagaimana kalau Nares juga tertarik padanya? Ah, persetan dengan cemburu!

***

Pagi ini Delisha menghadiri rapat bersama Rao Entertainment untuk membahas novelnya yang akan diangkat ke layar kaca. Ternyata pihak Rao memang sudah lama mengincar novel karya Delisha, sehingga tanpa mengikuti seleksi Delisha langsung terpilih. 

Rahman selaku produser pun mengenalkan kru inti kepada Delisha. Namun ia menyebutkan bahwa sutradara mereka mengalami sedikit kendala sehingga terlambat datang. Mereka pun menyusul rundown penyusunan film, mulai dari casting pemain sampai pemilihan lokasi syuting. 

“Gue nggak telat banget kan?” ucap Nares memecah obrolan tim. Nafasnya naik turun tak beraturan, pertanda dirinya memang terburu-buru. Dengan ramah ia menyalami semua kru termasuk Delisha. Wajahnya terlihat biasa saja seolah memang sudah tahu jika Delisha akan menjadi partner kerjanya.

“Loh Kaka Nares jadi tim juga?” tanya Dania cekatan.

“Ah rupanya kalian udah saling kenal,” terka Rahman. Dania tersenyum malu seolah pertanyaan itu mengandung unsur tebakan bahwa mereka sudah lama dekat. 

“Ya kemarin kami nonton bareng,” jawab Dania tidak tahu malu. Delisha terkejut bukan main, untuk apa saudarinya itu membeberkan hal pribadi? Nampaknya ia memang sengaja menyulut gosip. Semua sontak menyoraki Dania dan Nares secara bergantian. Namun, Nares terlihat tidak nyaman, terlihat dari senyumnya yang seperti dipaksakan. 

“Udah lah kita bahas kerjaan aja. Nggak penting bahas ginian,” putus Nares dengan nada cukup dingin. 

Mereka akhirnya larut dalam obrolan serius soal project film ini. Delisha sendiri terjun juga menjadi script writer di sini. Sebab, sering kali ia temui sebuah film adaptasi novel sering kali tidak sesuai dengan alur inti yang disampaikan penulis. Sehingga pesan penulis kurang tersampaikan. 

“Maka saya jadwalkan meet up buat Delisha dan Nares di cafe Amanda.” putus Rahman.

“Kenapa harus sama Nares, Pak?” sanggah Delisha.

“Karena dia sutradara proyek ini,” jawab Rahman. 

“Skakmat!” maki Delisha dalam hati

***

Mata Nares sibuk memandang objek di depannya, Delisha Alamanda. Delisha terlihat semakin bersinar ketika sedang berdiskusi seperti ini dengan pembawaan yang lugas diimbangi dengan senyuman yang manis. Telinganya seolah tersumpal, seluruh fokusnya hanya tertuju pada paras ayu Delisha. Ia mengenakan pakaian kasual dan riasan tipis, kontras dengan Dania. 

“Res? Halo, masih dengerin aku nggak sih?” Delisha melambai-lambaikan tangannya ke wajah Nares. 

“Cantik,” celetuk Nares tanpa sadar. Matanya bahkan masih fokus menatap Delisha. Semua tim tertawa melihat kekonyolan Nares, kecuali Dania. Ia tidak habis pikir kalau Nares justru memperhatikan Delisha dengan penampilan sederhananya. Padahal, Dania sudah memoles wajahnya hampir satu jam. 

Nares akhirnya tersadar karena cafe ini tiba-tiba menjadi riuh, dan penyebabnya ialah Nares. “Del, kayaknya kamu perlu ngulangi konsep kamu, Deh. Si Nares gagal fokus tuh sama kamu,” ucap Rahman dengan tawa yang masih berderai. 

“Nares baca scriptnya dulu lah. Aku mau istirahat,” kesal Delisha. 

Usai Nares mendalami script, Delisha kembali mempresentasikan konsep adegan dalam project film mereka. Mereka hanyut dalam obrolan serius sampai sekitar dua jam lamanya. Delisha bersyukur direktur Rao mau memberi akses penuh untuk Delisha mengatur alur cerita. Sedangkan Dania yang memang tidak tertarik dengan dunia macam itu memilih menyumpal telinganya dengan headset. 

Dua jam berlalu, rapat akhirnya usai. Satu persatu tim berpamitan pulang. Delisha yang masih asyik merevisi script yang ia buat sampai tidak sadar bahwa kini hanya Nares yang tertinggal. “Del. Maaf soal tadi,” ucap Nares membuyarkan fokus Delisha.

Delisha refleks menoleh ke arah Nares lalu mengangguk. Suasana tiba-tiba saja menjadi canggung. Ada rindu yang tersirat dalam pandangan mereka. Sebab, setelah adegan menonton film di rumah Delisha waktu itu, mereka benar-benar tidak pernah berkabar apa pun. Nares akhirnya mengenakan handbag-nya dan bersiap pergi. 

“Tunggu, Res,” panggil Delisha menghentikan gerakan Nares.

“Aku minta maaf soal nonton kemarin. Aku cuma lagi PMS jadi rada pedes omongannya.”  

Nares tersenyum menanggapi Delisha, “Woah! Aku kira apa. Aku malah sampe lupa soal itu.”

“Tapi waktu itu kamu pergi gitu aja,” sanggah Delisha sedih. 

Nares senang mengetahui kenyataan bahwa Delisha peka dengan kejadian waktu itu. Artinya Delisha menganggap peran Nares, “Aku marah karena nggak bisa cari alasan buat ketemu lagi sama kamu.”

Delisha menahan nafas, “Kan aku nggak pentin. Kenapa marah?”

“Aku pikir, aku naksir sama Nona pecinta spongebob di hadapanku,” aku Nares. Lega rasanya bisa menyampaikan kejujuran itu. 

Delisha meremas ujung blousenya erat-erat saking terkejutnya, “Aku?” Jawaban itu disusul anggukan mantap Nares. 

Delisha menyesap green tea miliknya sambil memikirkan berbagai kemungkinan buruk dari kejadian ini, “Kenapa cepet banget? Kita baru tiiga kali ketemu.”

“Emang ada aturannya harus ketemu berapa kali baru naksir?” tanya Nares sembari terkekeh. “Aku serius, Del.”

Singkat cerita malam itu Nares mengungkapkan cintanya kepada Delisha. Nares benar=benar tulus dengan perasaannya. Delsiha terlalu kuat mencengkram hatinya bahkan sejak pertemuan pertama mereka. Meskipun Delisha tidak langsung memberikan jawaban, tapi sesungguhnya nama Nares juga sudah bersemayam di hatinya. Malam itu dua makhluk itu pulang dengan perasaan membuncah. Namun, seseorang diam-diam tengah merasakan kesakitan luar biasa atas keputusan Nares yang memiliki Delisha.

***

Pagi ini Delisha menghadiri acara bedah buku miliknya di lobi Java Mall, Jakarta Barat. Buku yang dibedah kali ini ialah novelnya yang kedua dengan judul ‘Bintang Jatuh.’ Acara itu dihadiir oleh banyak anggota komunitas menulis se-Jakarta Barat sehingga membuat lobi mall penuh. Satu jam kemudian acara selesai. Kini beralih Dania yang menghibur para peserta dengan suara  merdunya. Sedangkan Delisha sibuk melayani para pemnggemarnya yang meminta tanda tangan di atas novel yang mereka beli darinya. Hingga tersisa seorang pembeli yang berpenampilan misterius. Ia mengenakan kaca mata hitam dan hoodie bertopi. 

“Tanda tangannya, Kak,” ucap laki-laki itu. Delisha langsung bisa mengenali siapa laki-laki misterius ini hanya dengan suaranya. 

“Nares?” laki-laki itu dengan panik mengisyaratkan untuk diam, “Jangan ada yang tahu kalo ini aku. Nanti aku jadi buronan.”

Delisha tertawa melihat kepanikan Nares. Ya memang begitu resiko menjadi publik figur. Tiba-tiba saja musik berhenti, disusul lampu yang tiba-tiba padam. Nares mengeluarkan sebuket bunga mawar yang ia sembunyikan dibalik punggung sejak tadi. Dengan lantang ia berucap bahwa ia hendak menjadikan Delisha sebagai kekasihnya. Seluruh penonton bersorak sorai pada Delisha supaya mau menerima Nares. Akhirnya dengan mentap Delisha menerima bunga itu sembari berkata ‘iya.’Setelah itu baru lah Nares membuka topi dan kacamatanya. Semua penonton terkejut karena ternyata laki-laki misterius yang menembak Delisha ialah Langit Darensi Nareswara. 

***

Peluncuran film ‘Bintang Jatuh’ yang merupakan adaptasi dari novel Delisha mendapatkan rating yang tinggi. Selain karena alur yang menarik, fakta kedekatan Delisha dan Nares ternyata berpengaruh besar. Mereka begitu mengidolakan sepasang kekasih ini: Nares yang mencintai Delisha dengan kekurangannya, dan Delisha yang cerdas dan percaya diri walau dengan segala keterbatasan yang ia miliki. 

Beberapa hari yang lalu, seorang dokter bedah asal Singapura tiba-tiba saja menawarkan operasi pemisahan tubuh Delisha dan Dania. Dokter itu bernama Adam, ayah dari fans fanatik Nares. Adam tercatat sudah berhasil melakukan operasi bedah mulai dari yang teremeh hingga tersulit sekalipun. 

Akhirnya sore itu keluarga si kembar terbang ke Singapura untuk konsultasi, Nares juga ikut. Setelah melalui beberapa pemeriksaan, akhirnya dokter menjadwalkan operasi mereka esok. Beruntungnya lagi, ada pasien yang berbaik hati mendonorkan hatinya untuk si kembar. Pasien itu mengalami kanker tulang dengan harapan hidup hampir nol persen. Ia pun memutuskan untuk mendonorkan organ-organya yang masih bisa bermanfaat untuk pasien lain.

Hari operasi akhirnya tiba juga. Nares tak hentinya merapalkan do’a bagi Delisha dan Dania. Baik Delisha dan Dania masing-masing siap dengan konsekuensi yang mereka terima jika operasi gagal.

Enam jam berlalu, Adam dan para perawat keluar dari ruang operasi. Adam menyatakan bahwa operasi berjalan lancar. Hanya saja pihak keluarga masih harus menunggu selama dua jam pasca operasi untuk bisa masuk dan menemui si kembar. Keluarga si kembar juga Nares tak hentinya mengucap syukur kepada tuhan yang berbaik hati mengaabulkan harap tulus mereka. 

***

Dania mengerjapkan matanya pelan. Ia merasa aneh dengan perubahan pada dirinya, tubuhnya terasa ringan tanpa ada diri Delisha yang menempel padanya. Dania terpekik tertahan mengetahui bahwa ia telah terpisah dari Delisha. Bahagia sekali rasanya. Ia kemudian melirik Delisha yang masih terbaring lemah, peralatan di tubuh Delisha lebih banyak, pertanda kondisinya tidak sebaik Dania. Dania turun mendekati Delisha. Matanya menangkap sekuntum mawar berwarna kuning. 

Teruntuk sebagian dari aku, Delly-nya Langit.

Lekas sembuh, Delly. Cincin pertunangan kita yang kamu desain kemarin udah jadi, loh. Tinggal kita fitting baju dan lokasi. Ah, can’t wait for make you mine.

Dari yang terbucin, Langit-nya Delly.

Dania meraba dadanya yang terasa sesak. Nares ternyata benar-benar serius terhadap Delisha. Daania tidak bisa menerima ini semua. Dania mencintai Nares lebih dulu dibandingkan Delisha. Bahkan sejak Nares masih memulai debut pertamanya, saat masih segelintir orang yang mengetahui nama Nares di industri hiburan tanah air.

Delisha selalu merebut apa yang Dania miliki. Mulai dari Nares, popularitas, dan masih banyak lagi. Kekecewaan itu mendorong Dania untuk melepaskan selang oksigen Delisha. Ia mengambil bantal miliknya lalu dibekaplah saudarinya itu tanpa belas kasih. Hingga elektrokardiogram milik Delisha berbunyi dtar tak berirama. Dengan licik Dania langsung kembali ke brankarnya dan memejamkan mata seolah belum tersadar. 

Ruangan ini begitu kedap suara sehingga bunyi elektrokardiogram tidak bisa terdengar sampai luar. Sekitar sepuluh menit baru lah para perawat dan dokter berhamburan masuk. Mereka panik mengetahui kondisi Delisha. Kejut jantung pun dilakukan namun tidak bisa memacu reaksi apapun pada jantung Delisha. Dan saat itu lah Delisha dinyatakan meninggal dunia. 

***

6 bulan kemudian…

Riuh tepuk tangan menggema di gedung super mewah yang dihiasi dengan aneka macam bunga dan pernak-penik lainnya. Ruangan ini didekorasi dengan nuansa putih dan kuning gading, menimbulkan kesan soft tapi elegan. Barusan Nares menyematkan sebuah cincin bertuliskan nama dirinya ke kelingking mempelai perempuan, Dania. Hari ini Nares dan Dania resmi bertunangan. Sedangkan resepsi pernikahan akan diadakan dua minggu setelah ini. 

“Aku beruntung bisa bersanding sama kamu, Dan. Kamu perempuan baik. Kamu udah mau sabar buat nuntun aku keluar dari bayang-bayang Delisha. Kamu ada buat aku selama keterpurukanku. Delisha emang nggak salah milihin kamu buat jadi pengganti dia. Makasih, Dan. Makasih banya,” ucap Nares tulus. Laki-laki itu menerawang lurus ke depan. Walaupun bibirnya melengkungkan senyuman, tapi tatapan sendu masih nampak jelas di sana. Dia belum bisa sepenuhnya melepaskan Delisha-nya. Mati-matian ia berusaha mencintai Dania karena surat wasiat yang Delisha tulis sebelum operasi dimulai. Delisha berpesan bahwa jika ia harus berpulang, maka Nares harus menjaga separuh jiwa-nya yaitu Dania. 

Dania meremas jemarinya sendiri karena gelisah. Ia akui bahwa dirinya sangat senang bisa memiliki seorang Nares. Tapi berkali-kali pula ia merasa dihantui rasa bersalah atas kematian Delisha, dan atas surat Delisha yang sebenarnya tidak pernah ada.