http://dreamarines.blogspot.com/

http://dreamarines.blogspot.com/

Bukit-bukit di seberang lembah Ebro tampak putih dan memanjang dari kejauhan. Di sisi ini tidak ada tempat teduh, tidak ada pohon rindang, dan terdapat sebuah stasiun di antara dua baris rel kereta yang terjemur terik matahari. Di sebelah stasiun ada bar kecil—dengan tirai terbuat dari untaian manik-manik bambu, tergantung di ambang pintu bar yang terbuka untuk menghalau lalat masuk. 

Seorang pemuda asal Amerika dan seorang gadis yang datang bersamanya duduk di meja di luar stasiun itu. Hari itu sangat panas menyengat, sementara kereta ekspres dari Barcelona baru akan tiba 40 menit lagi. Kereta itu akan berhenti selama dua menit saja di stasiun sebelum melanjutkan perjalanan ke Madrid. 

“Enaknya minum apa, ya?” Tanya si gadis. Ia telah melepas topi yang dikenakan dan meletakkannya di atas meja. 

“Minuman yang cocok untuk cuaca yang panas dan gerah,” kata pemuda itu. 

 “Kalau begitu kita pesan bir saja.”

Dos cervezas,” ujar pria itu ke arah tirai. 

“Dalam gelas besar?” Tanya seorang pelayan perempuan dari pintu. 

“Ya, dua gelas besar.”

Pelayan itu lalu datang membawakan dua gelas bir beserta tatakannya. Ia meletakan semuanya di atas meja sambil menatap ke arah dua pelanggan itu. Si gadis tengah memandang perbukitan yang memanjang. Di bawah cahaya matahari perbukitan itu tampak putih, sedangkan daerah perkotaan di dekatnya terlihat kecoklatan dan kering.  

“Lihat, bukit-bukit itu bentuknya mirip sekumpulan gajah putih,” katanya.

“Aku belum pernah melihat gajah putih.” Timpal si pemuda kemudian meneguk birnya. 

“Tentu saja kamu tidak pernah melihatnya sekali pun”

“Tapi mungkin pernah sekilas,” kata dalih itu. “perkataanmu barusan tidak membuktikan apa-apa, belum tentu benar.”

Gadis itu sekarang beralih mengamati tirai manik-manik. “Mereka menuliskan sesuatu  di tirai manik-manik ini…” katanya, “Apa ya tulisannya?”

“Anis del Toro, jenis minuman.”

“Haruskah kita mencobanya juga?”

“Permisi,” panggil pemuda itu lewat tirai, lalu pelayan wanita tadi menghampiri mereka. 

“Empat real.”

“Kami mau pesan lagi. Dua Anis del toro.”

“Dengan tambahan air atau tidak?”

“Kamu mau ditambahkan air?”

“Entahlah,” jawab si gadis. “Apakah rasanya enak jika begitu?”

“Ya, tetap enak.”

“Jadi, minumannya ditambah air?” Tanya pelayan itu. 

“Ya, ditambah air.”

“Rasanya seperti permen licorice,” komentar gadis itu setelah menyesap minumannya, lalu meletakkan gelasnya di atas meja. 

“Semua minuman begitu.”

“Ya,” kata gadis itu lagi. “Segalanya terasa seperti licorice. Apalagi kalau itu adalah minuman yang ditunggu-tunggu sejak lama, seperti absinthe.”

“Oh, sudahlah jangan dibahas,”

“Kau yang memulai duluan,” kata si gadis. “Aku cuma bercanda. Aku hanya berusaha menikmati suasana.” 

Well, kalau begitu, mari kita buat suasana jadi menyenangkan.”

“Baiklah, aku sudah mencobanya mencairkan suasana dari tadi dengan mengatakan padamu bahwa bukit-bukit di sana terlihat seperti gajah putih. Tidakkah itu menakjubkan?”

“Itu menakjubkan,”

“Aku juga ingin mencoba minuman yang asing bagiku ini. Itulah yang kita lakukan selama ini, bukan? Menikmati berbagai hal dan mencoba minuman baru.”

“Ya, betul.”

“Bukit-bukit itu tampak indah,” ujar si gadis, “Tentu saja bentuknya tidak sama persis seperti gajah putih. Yang kumaksud mirip adalah warnanya, seakan-akan merekalah yang ada diantara pepohonan itu. 

“Mungkin kita harus minum lagi,”

“Ide bagus.”

Angin yang hangat meniup tirai manik-manik ke arah meja mereka.

“Bir ini enak dan menyegarkan,” ujar pemuda itu. 

“Ya, enak sekali” timpal si gadis. 

“Jig, operasi itu cuma operasi biasa yang sangat sederhana,” ujar si pemuda. “Bahkan bukan seperti operasi sungguhan.”

Gadis itu menunduk, memandangi lantai tempat kaki-kaki meja berpijak. 

“Kurasa kau tidak akan keberatan, Jig.  Sama sekali bukan apa-apa. Hanya seperti ditiup angin saja.”

Gadis itu diam tak menanggapinya. 

“Aku akan ikut dan menemanimu sepanjang waktu. Mereka hanya akan meniupkan sedikit angin, dan segalanya kembali seperti semula.”

“Lalu apa yang akan kita lakukan setelah itu?”

“Kita akan baik-baik saja, seperti sebelumnya.”

“Apa yang membuatmu beranggapan demikian?”

“Karena cuma itu yang mengganggu kita. Satu-satunya hal yang membuat kita tidak bahagia.”

Si gadis memandang tirai, meraihnya dan menggenggam dua untaian manik-manik. 

“Menurutmu setelah itu kita akan tenang dan bahagia.”

“Aku yakin begitu. Kau tak perlu takut, aku tahu banyak orang yang telah menjalaninya.”

“Sama,” gadis itu menimpali. “Kemudian mereka semua diliputi kebahagiaan.” 

Well,” kata pemuda itu, “kau tidak harus melakukannya jika kau enggan. Aku tidak akan memaksa. Tapi yang aku tahu prosesnya sangatlah sederhana.”

“Bagaimana denganmu, apakah kau mau aku melakukannya?”

“Kurasa itulah jalan terbaiknya, tapi jangan lakukan kalau kau tidak ingin,”

“Jika aku setuju kau akan senang, segalanya akan membaik seperti sedia kala, dan kau akan mencintaiku lagi?”

“Saat ini pun aku mencintaimu. Kau tahu itu.”

“Ya, aku tahu. Tapi jika aku melakukannya, kita tidak akan sering bertengkar lagi? jika aku mengatakan banyak benda terlihat mirip gajah putih, dan kau tidak akan marah?

“Ya, aku akan senang mendengarnya, begitu juga saat ini. Tapi aku sedang tidak bisa memikirkan hal semacam itu. Kau tahu kan bagaimana sikapku ketika sedang cemas.”

“Dan jika aku setuju melakukannya, kau takkan pernah cemas lagi?”

“Aku tidak mencemaskan soal itu, karena prosedurnya sangat sederhana.”

“Baiklah. Aku bersedia melakukannya, karena aku tak menyayangi diriku.”

“Maksudmu?”

“Aku tidak peduli soal diriku.”

“Tapi aku peduli,”

“Oh, memang. Tapi aku tidak. Karena itu aku bersedia mengikuti permintaanmu lalu keadaan akan baik-baik saja seperti semula.”

“Aku tidak mau melakukannya kalau kau merasa seperti itu.”

Gadis itu bangkit berdiri dan berjalan pelan menuju ujung stasiun. Di seberang stasiun terbentang ladang gandum dan pohon-pohon berderet di sepanjang tepi sungai Ebro. Jauh dari sana, melewati sungai, terdapat pegunungan. Bayangan awan berarak melintasi ladang gandum dan dia melihat sungai melalui celah-celah pepohonan. 

“Kita bisa memiliki semua ini,” katanya. “Kita bisa saja memiliki segalanya dan bahagia. Tapi seiring hari berganti kita membuatnya semakin tidak mungkin.”

“Kau bilang apa barusan?”

“Kubilang kita bisa saja memiliki semuanya”

“Kita memang bisa memilikinya.”

“Tidak, tidak bisa.”

“Kita bahkan bisa menguasai dunia ini”

“Tidak.”

“Kita bisa pergi kemana saja”

“Tidak. Kita tidak bisa. Dunia ini bukan punya kita lagi.”

“Dunia ini masih milik kita.”

“Tidak lagi. Sekali mereka merampasnya, kita tidak akan pernah mendapatkannya kembali.”

“Tapi mereka belum mengambilnya”

“Ya, kita lihat dan tunggu saja.”

“Ayo kembali ke tempat teduh,” bujuk lelaki itu. “Jangan berprasangka seperti itu”

“Aku tak berprasangka apapun,” ujar gadis itu. “Aku mengetahui beberapa hal yang mungkin tidak kau ketahui.”

“Aku tak mau kau melakukan sesuatu jika hal tersebut tidak ingin kau lakukan—”

“Atau tidak baik untukku,” kata gadis itu memotong. “Aku tahu. Bolehkah kita minum bir lagi?”

“Baiklah. Tapi kau harus mengerti bahwa —”

“Aku mengerti, kok,” kata si gadis, “Bisakah kita berhenti bicara dulu?” 

Mereka duduk kembali di kursi dan gadis itu memandangi bukit-bukit di sisi lembah yang gersang, sementara si lelaki memandang kekasihnya. 

“Kau harus mengerti,” ujar lelaki itu, “ bahwa aku tidak ingin kau melakukannya karena terpaksa. Aku sungguh, benar-benar akan menjalani sesuatu  jika hal itu berarti buatmu” 

“Apakah hal itu tidak berarti untukmu? Kita bisa menjalaninya bersama-sama.”

“ Tentu saja berarti. Tapi aku tidak menginginkan siapapun kecuali dirimu. Tak seorangpun selain dirimu. Dan aku juga tahu kalau prosesnya sangat sederhana.”

“Ya, prosesnya sederhana, sudah kau katakan berkali-kali.”

“Terserah kalau kau tidak percaya, tapi aku tahu itu benar.”

“Maukah kau lakukan sesuatu untukku sekarang?”

“Aku akan melakukan apapun untukmu”

“Kalau begitu bisakah kau untuk, please, please, please, berhenti bicara?”

Pemuda itu seketika terdiam dan menatap tumpukan tas yang disandarkan pada dinding stasiun. Pada tas-tas itu tersemat label dari berbagai hotel yang pernah mereka singgahi.

“Tapi aku tidak mau kau berhenti bicara,” katanya, “kau bisa bicara tentang apa saja, dan aku tidak masalah dengan itu”

“Aku ingin berteriak,” kata gadis itu.

Wanita pelayan bar keluar dari balik tirai membawakan dua gelas bir pesanan mereka, dan meletakkannya bersama tatakan yang sudah lembab di atas meja. “Keretanya akan tiba lima menit lagi,” katanya.

“Apa katanya?” Tanya si gadis.

“Keretanya sampai lima menit lagi.”

Gadis itu melempar senyum lebar kepada pelayan itu, sebagai tanda terima kasih.

“Sepertinya lebih baik aku memindahkan tas kita ke dekat stasiun,” ujar si pemuda. Gadis itu tersenyum padanya. 

“Baiklah, setelah itu segeralah kembali dan habiskan birnya.”

Pemuda itu mengangkat dua tas penuh berisi yang berat dan membawanya ke sisi lain stasiun kereta. Ia menatap ke arah rel-rel yang panjang, tapi belum melihat keretanya. Sekembalinya dari sana, ia berjalan melewati ruang bar dimana para penumpang yang menunggu kereta sedang minum-minum. Ia menyempatkan diri memesan dan meneguk segelas Anis di bar itu dan menatap orang-orang di sekitarnya. Mereka semua sedang menunggu kedatangan kereta. Kemudian ia melangkah keluar melalui tirai manik-manik bambu. Si gadis masih duduk di meja tadi, dan tersenyum ke arahnya.

“Apakah kau sudah merasa lebih baik?” Tanya si pemuda

“Aku kan memang baik-baik saja,” jawab gadis itu. “Tidak ada yang salah denganku,  aku baik-baik saja. “

***

Diterjemahkan dari cerpen berjudul Hills Like White Elephants” karya novelis dan cerpenis Amerika Serikat Ernest Hemingway. Diterbitkan pertama kali pada koleksi kumpulan cerpen bertajuk Men Without Women pada 1927.