Mereka semua memanggilnya namanya, Miriam.

Miriam siapa? Hanya Miriam. Miriam saja. Nama panjangnya??! Tidak ada seorang pun yang tau.

Umurnya baru sepuluh tahun saat ayah membawanya ke sini. Ke tengah-tengah keluarga kami. Miriam adalah keponakan ayah. Anak semata wayang dari adik laki-laki kandungnya yang tinggal di Jakarta. Selama ini kami belum pernah bertemu mereka. 

Ayah dan ibu Miriam meninggal dunia karena musibah yang menimpa mereka, rumahnya habis terbakar. Miriam ditemukan oleh para petugas pemadam kebakaran di luar rumahnya. Malam itu Miriam kecil mencari ayah ibunya sambil menangis tanpa suara. Miriam sendirian. Tidak ada sanak saudara yang mau menampung Miriam. Dengan keputusan ayah, si yatim piatu itu pun kemudian tinggal bersama kami. Di Sleman, Yogyakarta. 

Bocah kecil berkulit putih dengan lesung pipit di pipinya itu, ternyata anak yang sangat menyenangkan. Kata ibu padaku di suatu hari. Hanya butuh beberapa hari, ternyata Miriam kecil telah mencuri semua hati seluruh penghuni di rumah kami. Kami sekeluarga begitu menyukai Miriam… mencintainya malah. Kami sudah menganggap Miriam sebagai bagian dari keluarga kami. Saudara kami sendiri. Tapi… Tidak denganku.

“Kenapa? Entahlah!”

Jangan pernah tanyakan hal itu padaku.

Jujur selama ini aku tak pernah bisa mengenal Miriam dengan baik. Anak berambut ikal, bermata belo, dan mudah tersenyum itu, bagiku begitu terlihat menyebalkan. Mungkin hanya aku saja di keluarga ini yang tidak menyukai Miriam. Kalau ada Miriam di depanku, dengan senang hati aku akan segera pergi menjauh. Menghilang begitu saja dari hadapannya. Segera. Dalam diamku aku benar-benar tak menyukai anak itu. Miriam… 

Berbeda sekali dengan Sisi dan Sasa. Kedua saudara kembarku yang baru berusia delapan tahun itu, mereka berdua sangat menyukai Miriam. Mereka bilang, Miriam adalah anak manis dan pintar. Ayah dan ibuku juga menyukai Miriam. Bagi mereka, Miriam adalah anak yang dapat diandalkan. Semua pekerjaan rumah dapat dikerjakan oleh Miriam dengan baik. Kata mereka, kalau ada Miriam semua pekerjaan pasti beres! 

Aku yang mendengar hal itu hanya bisa manyun. Memonyongkan bibir semaju-majunya. Kemudian melengos pergi begitu saja. Meninggalkan ayah dan ibu yang masih membicarakan Miriam di ruang tengah sambil menonton TV.

“Terserah!” Runtukku dalam hati. 

 Aku merasa begitu kesal. Sebal. Kenapa harus selalu dan melulu Miriam.

“Ugh!”

Aku tak tau mengapa aku tak pernah bisa menyukai Miriam, saat itu…

***

Kemudian, hari-hari pun berlalu seperti biasanya.

Bulan mei datang. Ramadhan tiba. Bulan yang ditunggu-tunggu oleh banyak orang. Bulan suci. Bulan yang kata orang sebagai bulan yang penuh dengan keberkahan. 

Ketika bulan itu berkunjung ke desa kami. Orang-orang menyambutnya dengan suka cita. Mereka berbondong-bondong mempersiapkan kedatangan bulan itu dengan sebaik-baiknya persiapan. Seperti sebuah perayaan besar. Maklum saja, karena bulan yang penuh dengan kebaikan itu hanya ada setahun sekali.  

Orang-orang mulai terlihat sibuk di rumah masing-masing. Ada yang mengganti pagar kayu di rumahnya, supaya terlihat bagus. Ada yang mengecat rumahnya dengan berbagai macam warna cerah. Ada yang menghias seluruh penjuru rumah dengan lampu warna-warni, supaya gemerlap. Ada juga yang sibuk menghias rumah mereka dengan aneka macam kentongan. Kentongan dengan segala bentuk. Kentongan besar ataupun kecil. Kentongan itu akan dibunyikan oleh warga desa saat adzan maghrib berkumandang. Tanda waktu berbuka bagi yang menjalankan ibadah puasa. 

Lingkungan masjid di desa kami juga tidak kalah sibuk. Mereka ikut menyambut bulan penuh kegembiraan itu dengan penuh rasa khusyu. Para tetua masjid meminta beberapa orang tua, dewasa, dan remaja, khususnya laki-laki, untuk membersihkan masjid. Menyapu, mengepel, mengelap, dan mencabuti rumput yang tumbuh di sekitar masjid. Beberapa dari mereka ada juga yang ikut membantu mengganti kulit bedug di masjid dengan yang baru. Supaya suara bedug terdengar lebih nyaring hingga ke pinggiran desa.

Sungguh pemandangan yang indah. Semarak rasanya…

 

Rumah kami juga tidak mau kalah ikut hiruk pikuk menyambut datangnya ramadhan. Setelah rumah selesai dicat dan diberi hiasan lampu. Biasanya aku dan ayah pergi ke tukang cukur langganan kami. Disana kami memangkas rambut kami. Memotongnya hingga habis dan terlihat bersih. Merapikannya sesuai dengan bentuk kepala kami masing-masing. Aku senang sekali memandangi wajah ayah ketika tukang potong selesai merapikan jenggot di dagunya. Saat itu ayah terlihat begitu muda. Begitu tampan dan gagah. Tampak seperti aku. Orang bilang sebagian sisi dari diri ayah banyak melekat padaku. Ayah tersenyum ketika aku menatapnya, kemudian ayah mengelus rambutku yang warna hitamnya sudah tak ada lagi, menggandeng tanganku mengajakku untuk pulang.

Sisi dan Sasa juga mendapatkan keberkahan yang sama dari Ramadhan. Sisi dan Sasa mendapatkan masing-masing satu potong baju dan kerudung berwarna putih. Biasanya baju putih itu akan dipakai oleh mereka saat ke masjid. Baju itu untuk shalat dan mengaji bersama dengan teman-temannya. 

Begitu juga dengan Miriam… Bagi Miriam ini adalah Ramadhan pertamanya di desa kami. Miriam juga mendapatkan satu potong baju dan kerudung berwarna putih. Tapi motif baju Miriam berbeda dengan milik Sisi dan Sasa. Baju yang Miriam dapatkan dari ibu juga berbeda ukuran panjangnya. Kata ibu, baju itu permintaan dari Miriam sendiri. Ibu memberitahukan kepada kami bahwa baju panjang yang ukurannya sampai ke mata kaki itu, disebut sebagai gamis. Baju perempuan muslim.

Saat aku melihat Miriam memakai baju itu, untuk pertama kalinya aku merasa seperti ada sesuatu yang lain bergetar di hatiku. Sesuatu yang begitu hangat, tapi menyesakkan dada. Aku merasa hatiku bergerak berderak-derak, begitu cepat. Berdetak-detak sendiri dengan irama yang mendebarkan. Aku merasa begitu sesak.

Saat itu tanpa ada seorang pun yang mendengarnya. Aku berkata “Cantik” dengan suara lirih pada Miriam. Saat ramadhan di tahun itu, usiaku beranjak lima belas tahun selisih lima tahun dengan Miriam.

***

Sore itu aku sedang asik bermain dengan sepeda baruku yang berwarna biru. Hadiah dari ayah. Kata ayah, panen tahun ini seluruh sawah berhasil di semai. Sepuluh petak sawah ayah  yang berada di dekat kebun sebelah barat, telah digarap dengan baik oleh petani-petani sewaan ayah. Ayah untung besar.

Bukan hanya aku yang dibelikan hadiah oleh ayah. Saat itu, dua adik kembarku yang telah berkerudung seperti Miriam juga mendapatkan hadiah. Sepasang sepatu berwarna yang dapat menyala di bagian bawahnya jika dipakai berjalan. Sisi berwarna merah muda dan Sasa berwarna ungu. Aku tertawa mendengarnya. Permintaan mereka bagiku terlihat begitu aneh dan menggelikan. Tapi bagi si kembar permintaan mereka itu sah-sah saja jika ayah membolehkannya. Tanpa setahuku Sisi dan Sasa sudah sejak lama memimpikan sepatu-sepatu itu.

Miriam tidak meminta apa-apa dari ayah saat itu. Kata Miriam segala yang dia miliki sudah diberikan oleh ayah dan ibu lebih dari yang dia butuhkan. “Tuhan…” Dewasa sekali pemikiran Miriam. Aku yang mengetahui ucapannya saat itu hanya bisa menatap wajahnya dalam-dalam sambil terdiam. Lagi-lagi aku merasakan hal itu. Sesuatu sangat besar yang besar terselip di hatiku dan membuncah rasanya. Dan aku masih belum tau itu apa. Dalam diamku aku bertanya-tanya sendiri. Ada apa denganku?

Saat itu Miriam kecil berumur dua belas tahun dan aku tujuh belas tahun. 

Sore sudah menjelang. Waktunya aku kembali pulang. Setelah puas berjalan-jalan sambil naik sepeda baru dengan teman-temanku. Aku mengayuh sepeda dengan cepat. Karena sepedaku masih baru jadi tarikan dari pedalnya masih terasa ringan, hingga aku tak memperhatikan tingginya trotoar yang berada di kiri jalan saat itu.

 Aku menabrak trotoar itu hingga jatuh. Sepedaku oleng. Roda sepedaku menginjak pasir dan kerikil yang bertebaran di pinggir trotoar jalan hingga terasa licin. Benturan yang keras dengan trotoar dan jalan membuat sepedaku penyok di bagian depannya. Beberapa jeruji sepeda melesat ke dalam, beberapa ada yang patah. Aku terkejut.

Untung saat itu aku tidak apa-apa. Hanya ada sedikit luka pada bagian pelipis sebelah kanan di atas alis. Agak memar memang. Sedikit berdarah… Tiba-tiba aku merasa berkunang-kunang. Kepalaku sakit. Aku merasa pusing. Sambil jalan aku beranjak pulang dengan badan sempoyongan. Menuju rumah, aku diantar oleh teman-teman. Badanku terasa lemas. Mungkin aku lelah. Pikirku begitu.

Malam harinya aku tak dapat tidur. Seluruh badanku terasa panas. Selain panas aku juga menggigil kedinginan. Keringat dingin pelan-pelan membanjiri sekujur tubuhku. Aku gelisah berteriak-teriak memanggil ibu. Mencoba menyebut-nyebut namanya dalam lirihku. Tapi  ibu tidak juga datang. Aku merasa badanku semakin tak enak. Aku merasa demam. Kepalaku pusing. Kepala ini kembali terasa sakit sekali. Lama sekali aku berada di kamar merintih sendirian. Mengerang. Menutup mata dan kepala dengan kedua belah tanganku. Hingga kemudian datanglah sosok itu. Miriam…

Miriam masuk ke kamarku tanpa mengetuk pintu. Matanya menatap diriku di atas kasur. Kemudian dia pergi mengambil air di baskom dan sebuah handuk kecil. Miriam mengompres dahiku sebelum terlebih dahulu mengobati luka di pelipisku. 

Sambil mengompres tangan kanan Miriam sibuk memencet tombol di hape miliknya hingga beberapa kali. Jari-jarinya yang kecil terus berusaha menekan gambar telepon berwarna hijau. Terpencet. Mati. Terpencet lagi. Begitu terus berulang-ulang. Miriam berusaha menghubungi ayah dan ibu. Saat itu aku baru tahu kalau ayah dan ibu sedang tidak di rumah. Mereka berada di Prambanan. Mereka sedang takziah. Tadi sore saudara ipar dari ibu meninggal dunia, saat aku sedang bersepeda bersama teman-teman. Saat itu jarum jam di dinding kamar menunjukan pukul sebelas. Hari sudah malam. Sambil menahan sakit aku masih ingat menyebut nama ibu, dikelunya bibirku. 

Di antara kebingungan malam itu, samar-samar aku melihat wajah Miriam yang memucat. Badannya gemetar. Miriam menggenggam erat tanganku sambil menangis tanpa suara. Ada kalut yang bergelayut di wajahnya dengan hebat. Miriam ingat kembali peristiwa menyedihkan yang terjadi saat itu. Malam itu. Saat rumahnya habis terbakar. Saat kedua orang tuanya juga… Miriam tergugu. Miriam masih menungguiku. Aku tak tahu apa yang ada di pikirannya saat itu. Yang jelas matanya semakin sembah. Semakin basah. Air matanya terus bercucuran tanpa arah.

“Miriam…” Ucapku pelan. Kemudian aku tak sadarkan diri…

Esok harinya ketika tersadar. Aku sudah berada di rumah sakit. Selang infus seperti pipa kecil itu melilit kaku di salah satu tanganku. Kata ayah, aku hanya terkena demam biasa. Shock akibat benturan keras di kepala dan pelipis bagian atas di bawah alis. Oleh dokter yang memeriksaku setelah memberi obat, esok aku sudah diperbolehkan pulang jika panas di tubuhku sudah menurun dan keadaanku sudah lebih baik. Lebih stabil. Aku hanya menganggukan kepala. Menurut saja.

 Semua keluargaku datang menjenguk saat itu. Termasuk dua saudara kembarku yang lucu-lucu itu, Sisi dan Sasa. Tapi Miriam tidak ada di situ. Tidak ada di kamarku, di rumah sakit itu. Aku mencari-cari sosoknya dalam diam dengan kedua mataku. Tapi Miriam tetap tidak kutemukan. Kemana dia? Miriam…

“Di mana Miriam bu?” 

Ibu terkejut mendengar nama Miriam disebut olehku. Karena setahu ibu aku dan Miriam ibarat api dan air.  Ibu kemudian tersenyum. Entah apa arti senyuman di wajah ibu saat itu.  Sedang ayahku hanya mengernyitkan matanya. Tangan besarnya menutupi setengah bagian dari wajahnya. 

“Sepertinya telah terjadi sesuatu, pada anak kita bu.”

  Lalu aku melihat kedua orang tuaku. Ayah dan ibu tersenyum padaku.

Aku hanya terperangah…

***

Waktu cepat sekali berlalu. Tahun berubah… Hari berganti…

Hari ini bulan Januari. Di bulan ini Miriam genap berusia lima belas tahun. Malam nanti, ayah, ibu, dan kedua adik kembarku, berencana mengadakan acara untuk Miriam. Pesta perayaan kecil-kecilan di hari jadinya. Pesta di keluarga kecilku. Aku yang mengetahui rencana tiba-tiba mereka hanya bisa diam saja. Antara mengiyakan dan tidak… 

Malam itu kami semua berkumpul di meja makan. Duduk seperti biasa di kursi kesayangan kami masing-masing. Duduk melingkar. Makanan yang tersaji di meja sangat banyak dan bervariatif saat itu. Ada ayam goreng dan balado telur favoritku, capcay sayur, tahu bacem kesukaan ayah, perkedel tahu, sosis bakar kesukaan si kembar, ikan tuna goreng yang durinya sudah dipisahkan, hingga nasi kuning buatan ibu yang membuat aku tidak tahan untuk segera menyantap habis semua makanan itu.

“Sabar Ali, kita tunggu Miriam sebentar lagi.” Ucap ibu padaku. Ibu tersenyum ketika melihat anak laki-lakinya terlihat seperti orang yang kelaparan.

Sisi dan Sasa tertawa melihatku.

Kemudian Miriam datang. Keluar dari kamarnya yang berada di lantai atas, bersebelahan letaknya dengan kamar ayah dan ibu. Miriam berjalan ke arah meja makan tempat kami semua berkumpul. Aku yang melihat Miriam saat itu, tiba-tiba tersipu. Pipiku memanas. Entah kenapa tiba-tiba aku merasa resah. Aku juga merasa tak begitu nyaman dengan resahku itu. 

Miriam duduk tepat di depanku. Diapit oleh ayah dan ibu. Malam ini Miriam terlihat begitu berbeda. Gamis warna biru dan balutan kerudung besar yang hampir menutupi seluruh badannya yang jangkung, membuat Miriam terlihat begitu dewasa. Begitu anggun saat itu. Bagiku.

Sisi dan Sasa, duo kembar itu langsung menyanyikan lagu ulang tahun sambil bertepuk tangan. Diikuti oleh ayah dan ibu sambil tertawa lepas. Mereka terlihat bahagia. Sedang aku hanya memperhatikan mereka saja. Memperhatikan Miriam lebih tepatnya. Kedua mata ini tak pernah lepas pengawasannya pada wajah Miriam yang syahdu.

Kemudian Miriam meniup lilin di kue coklat buatan ibu dan membagikan potongan demi potongan kue-kue itu kepada ibu, ayah, si kembar, lalu potongan terakhir diberikannya padaku sambil tersenyum.

“Untuk mas Ali.” Ucap Miriam. Aku yang menerimanya hanya menganggukkan kepala.  

Malam itu semua keluargaku makan sambil bercerita ke sana kemari. Bicara apa saja  dengan perasaan senang. Terlebih Miriam, anak yang dulunya terlihat kecil, kurus, biasa saja, dan menyebalkan itu, sekarang telah berubah menjadi seorang perempuan yang berbeda. Terlihat dewasa di mataku. 

 Aku lalu menghela panjang napasku. Embusannya terasa berat. Beberapa kali saat makan malam itu, tanpa sengaja pandangan mata kami bertemu. Miriam dan aku. Miriam tersenyum setiap mata kami bersitatap tanpa ragu. Aku terpaku dalam diamku. Terkesima dan membuncah. Wajah Miriam saat itu terlihat begitu dekat di pelupuk mataku. Menari-nari dengan lincahnya ke kanan dan kiri. Sekali lagi aku menghela panjang napasku.

“Kenapa Mas Ali?” Tanya Miriam yang melihatku saat itu.

Aku yang mendapat pertanyaan dari Miriam malam itu, hanya menggelengkan kepala. Aku tidak dapat menjawabnya. Tidak tahu harus berkata apa. Hanya kembali menatap wajah Miriam, masih dalam diamku yang sejak tadi terasa sama. Aku sudah mulai tidak peduli lagi pada mereka. Keluargaku. Ayah serta ibuku. 

Sepintas aku lalu terkejut dalam sadarku. Di balik relungku. Malam itu, kilas balik masa lalu seperti bermain-main di pikiranku. Semuanya berkecamuk seperti rangkaian kisah dan narasi, diputar ulang jadi satu. Berulang-ulang. Bermuncul-munculan. Saling berkaitan. Tiba-tiba berbagai kepingan cerita dalam ingatanku selalu tergambar wajah itu. Miriam…

 Kemudian. “Aku menyukai anak itu…”

Saat itu usia Miriam lima belas dan aku dua puluh tahun. 

Aku tak tau harus berbuat apa saat itu. Malam itu. Hanya sedikit tanya yang bergemuruh di dalam hati. Bolehkah rasa seperti ini berlanjut? Miriam… Tanya, tanpa ada sebuah jawaban.

Aku mabuk… Seperti candu…

Oleh banyaknya kata-kata kiasan yang tidak bisa kurangkai menjadi kalimat indah untuk mu, di suatu hari.

Saat matahari warnanya  tenggelam, bukan lagi kediaman yang akan aku sajikan

Dari kaki-kaki surga, kuuntai sebuah bunga pelangi untuk kusematkan di dasar hatimu yang tak bertuan.

Tapi bisakah??  

Karena ini cinta….