Nilai-Nilai Kebangsaan Sebagai Kontrol Internal Pelajar, Sosialisasi 4 Pilar MPR RI di SMK Ma’arif 1 Wates, Kulon Progo (22/01)

Anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR RI) Dr. H. Hilmy Muhammad, M.A. menyelenggarakan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI dihadapan ratusan pelajar Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Ma’arif 1 Wates, Kulon Progo, Yogyakarta. Adapun tema yang diangkat adalah Reaktulisasi Nilai-Nilai Kehidupan Berbangsa dalam Keseharian Pelajar.

Kepala Sekolah SMK Ma’arif 1 Wates, Kulon Progo, H. Rahmat Raharja, M.Pdi. mengatakan bahwa tema tersebut sangat cocok bagi generasi saat ini, mengingat semakin sulitnya sekolah maupun orang tua untuk mengontrol anak-anak.

“Dengan memahami nilai-nilai kehidupan berbangsa ini, para pelajar akan dapat menginternalisasi nilai-nilai tersebut ke dalam dirinya sehingga kontrol dari luar dirinya semakin minim dibutuhkan. Akan tetapi sebaliknya. Jika nilai-nilai ini tidak tertanam baik dari diri setiap pelajar, mau dikontrol seperti apapun akan tetap tidak terkontrol,” ujar Rahmat dalam sambutannya di aula sekolah yang dipimpinnya tersebut pada Senin (22/01) pagi.

Menurutnya, jika para pelajar ingin menjadi generasi pemegang masa depan, maka nilai-nilai berbangsa harus tertanam sejak dini. Mungkin 15-20 tahun lagi, para siswa inilah yang akan menjadi pemimpin.

 

Baca Juga Artikel Sosialisasi 4 Pilar MPR RI

 

Pernyataan tersebut diperkuat oleh Anggota MPR RI Dr. H. Hilmy Muhammad, M.A. yang menyatakan bahwa tema tersebut diharapkan dalam melahirkan rasa nasionalisme para pelajar di tengah gempuran budaya luar.

“Inilah adalah hal penting yang harus kita ketahui. Utamanya terkait tentang nasionalisme yang menjadi tantangan kita bersama. Perwujudan nilai-nilai nasionalisme dapat diterapkan dengan hal-hal yang lebih sederhana dalam kehidupan sehari-hari,” ujar pria yang akrab disapa Gus Hilmy tersebut.

Menurut Gus Hilmy, nasionalisme tidak hanya setahun sekali ketika 17-an, tidak hanya dalam laga tim nasional. Nasionalisme dalam arti cinta tanah air, harus diimplementasikan setiap hari.

“Bukti bahwa cinta adalah harus ada pengorbanan pada apa yang dicintai. Nasionalisme dibuktikan dalam kehidupan sehari-hari. Dapat dimulai dari hal-hal yang sederhana, seperti menjaga kedisiplinan, kebersihan, tolong-menolong, menempatkan sesuatu pada tempatnya. Yang sederhana ini mencerminkan nilai-nilai kebangsaan yang semestinya harus kita jaga dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Pembicara lain yang turut hadir adalah budayawan Miko Cakcoy. Bagi pria yang juga dalang pewayangan tersebut, nasionalisme dapat diwujudkan melalui kecintaan pada kearifan lokal. Sebab, adanya nasional karena adanya lokal.

“Nasional adalah kumpulan lokal. Jadi mencintai yang lokal pada dasarnya adalah memupuk cinta pada yang nasional. Sebab sumber dari nasional adalah kelokalan,” ujarnya pria lulusan UIN Sunan Kalijaga tersebut.