Menu

Kendala Guru dalam Melaksanakan Kurikulum Sekolah Penggerak pada Masa Pandemi Covid-19 | Al Hamda Niqmatu Shalihah

Menurut Ardliyanto (2014) kendala yang paling dirasakan oleh guru yaitu saat guru belum dapat mengimplementasikan atau menerapkannya kurikulum di lapangan seperti apa yang dikehendaki oleh pemerintah. Lalu, guru juga sebenarnya kurang persiapan, kurang bisa memahami secara cepat dan juga pasti sulit juga beradaptasi ketika terjadi pergantian kurikulum. 

Adapun dalam penerapan kurikulum sebelumnya yaitu kurikulum 2013 telah ditemukan beberapa kendala yang dialami oleh guru seperti menurut Kristiana Apriandi Septiansyah (2014) bahwa guru ternyata masih kurang untuk memahami apa sebenarnya esensi dari kurikulum 2013 dan apa pendekatan saintifiknya. 

Dari penelitian yang ia lakukan lebih dari 40% para guru kurang memahami hal tersebut dan penyebabnya karena dalam proses pelatihan ataupun workshop guru masih kurang aktif dan akhirnya proses pemahaman guru terhadap kurikulum 2013 masih terbilang minim. Sama halnya dengan kurikulum sekolah penggerak guru juga mengalami kendala yang sama yaitu salah satunya dalam manajemen ruang. Seperti Penelitian yang dilakukan oleh Rahayu Sucik (2021) menunjukkan bahwa persentase kendala yang dialami guru dalam manajemen ruang untuk pengimplementasi sekolah penggerak yaitu dikategorikan cukup tinggi yaitu sebesar 95% bagian sedangkan sisanya yaitu 50% adalah guru yang tidak mempunyai kendala. 

Maksud dari manajemen kurikulum diatas yaitu sebuah substansi manajemen yang paling diutamakan dalam sekolah. Dalam manajemen kurikulum terdapat prinsip yang mendasar yaitu adanya upaya untuk menjadikan pembelajaran dapat dilakukan secara baik sesuai indikator pencapaian tujuan oleh siswa. Untuk berjalannya kurikulum sekolah penggerak sangat bergantung kepada stakeholder di sekolah yaitu kepala sekolah dan guru yang diharapkan dapat memberikan peran aktif di dalam pengelolaan sekolah dan juga melakukan segala komponen yang berhubungan dengan terselenggaranya sekolah secara keseluruhan. Artinya bahwa kedua pihak tersebut memang sangat diperlukan agar manajemen pendidikan tetap terlaksana dengan baik. 

[button link=”https://sukusastra.com/category/sastra/nonfiksi/” type=”big” newwindow=”yes”] Baca Juga Kumpulan Artikel Suku Sastra[/button]

Pelaksanaan manajemen kurikulum tersebut dikatakan adalah bagian terpenting dari seluruh manajemen pendidikan yang ada di jenjang pendidikan artinya juga berjalannya sebuah lembaga pendidikan sangatlah bergantung dengan manajemen kurikulum itu sendiri. Untuk mewujudkan manajemen kurikulum yang baik tentunya guru juga dihadapkan dengan keadaan yang bisa dikatakan tidak mudah, apalagi saat ini masih di era pandemi Covid-19 yang akhirnya menggunakan pembelajaran jarak jauh (PJJ). Merespon hal itu, mungkin agak sulit untuk pengimplementasian kurikulum sekolah penggerak ini. Sebelum guru  mengimplementasikan kepada peserta didik lebih jauh,  guru yang sedang mengikuti pelatihan online mengenai sekolah penggerak pun sudah merasa kewalahan.

Menurut Heri Retnawati (2015) dalam pengimplementasian kurikulum 2013 terdapat kendala yang dirasakan oleh guru. Seperti halnya yang telah kita ketahui bahwa kurikulum 2013 dilakukan serempak di seluruh sekolah di Indonesia. Akan tetapi, hal tersebut juga mendapat kontroversi apabila diberlakukannya kurikulum 2013. Salah satu alasannya yaitu terdapat sebuah masalah mengenai siap atau tidaknya dalam penyelenggaraan pendidikan. Ternyata terdapat beberapa sekolah belum mempunyai persiapan yang matang dan akhirnya memaksakan diri untuk mengikuti sistem tersebut. Padahal oleh pemerintah sudah berupaya dengan melakukan segala macam sosialisasi, seminar dan pelatihan. Akan tetapi, nyatanya di lapangan masih ditemukan beberapa kendala yang berkenaan dengan hal tersebut. 

Berbicara dengan sosialisasi ataupun seminar yang telah dilakukan, ternyata upaya pelantikan dan sosialisasi pun tidak berjalan dengan baik dan terdapat kendala yang muncul dalam proses pelatihan tersebut. Kendalanya yaitu adanya kesalahpahaman atau miskomunikasi di antara satu dengan yang lainnya. Sehingga keadaan tersebut mengakibatkan kebingungan di antara peserta. Selain itu, kendala lainnya seperti dalam waktu pelatihan yang diberikan sangat singkat. 

[button link=”https://sukusastra.com/category/sastra/nonfiksi/” type=”big” newwindow=”yes”] Baca Juga Kumpulan Artikel Suku Sastra[/button]

Lalu dalam penyelenggaraan sosialisasi secara massal untuk menghimpun seluruh guru mewajibkan harusnya dibagi bergelombang, sehingga membuat waktunya menjadi sangat terbatas. Masalah-masalah hal tersebut akan menjadi semakin rumit apabila waktunya terbatas dan mengakibatkan munculnya sebuah permasalahan baru yaitu banyaknya materi yang disampaikan kurang detail. Akhirnya juga akan berdampak kepada guru karena guru tidak dapat menangkap materi dengan baik. 

Selain itu, kurikulum sekolah penggerak dalam pengimplementasiannya masih terjadi beberapa kendala yaitu minimnya informasi terkait kurikulum Sekolah Penggerak. Hal tersebut dilihat dari beberapa guru yang hanya mengandalkan informasi dari sekolah dan mereka tidak berusaha mencari sendiri informasi yang bisa didapatkan dari luar sekolah seperti dari mengikuti workshop ataupun yang lainnya. 

 

 

Tuliskan komentar