Di sebuah desa, sepasang suami istri hidup dengan damai. Tak hanya damai di dalam rumah, kehidupan mereka bersama para tetangga juga sangat harmonis. Keluarga itu memiliki seekor kuda yang gagah. Tak heran jika menjadi rujukan para tetangga untuk mengangkat barang atau untuk bepergian. Terkadang, mereka sendiri tak bisa menggunakan kuda itu saat membutuhkan karena sudah dipinjam orang.

Kadang muncul rasa jengkel pada diri suami. Tapi bagaimana lagi, ia tak bisa menolak untuk menolong orang lain. Meski begitu, ia tak bisa menepis rasa jengkelnya itu. Ia pun berniat menukar kudanya dengan barang atau hewan yang lebih bermanfaat baginya dan keluarganya. Niat itu pun ia sampaikan kepada istrinya. Dengan ringan istri mempersilakan suami. “Apa yang kau lakukan tentu yang terbaik,” kata sang istri. “Segeralah ke pasar.”

Esoknya, suami pergi ke pasar bersama kudanya yang gagah itu. Belum sampai di pasar, ia bertemu dengan seseorang yang membawa sapi. Ia pun menghampiri pemilik sapi. Sapi memiliki banyak susu, dan tentu saja akan sangat bermanfaat bagi keluarganya.

“Hei, kawan. Maukah kau bertukar. Kau mendapatkan kudaku yang gagah dan lebih mahal dari sapimu.”

Mereka pun sepakat. Pertukaran yang cepat, dan ia ingin cepat pulang. Namun ingat, kalau ia berkata pada istrinya hendak ke pasar. Maka perjalanan itu pun ia lanjutkan. Belum juga sampai di pasar, ia bertemu dengan seseorang yang menggiring domba. “Ah, alangkah tegapnya domba-domba itu, dan bulunya panjang-panjang. Tentu akan banyak menghasilkan bulu wol.” Katanya.

Ia pun menghapiri dan menawarkan pertukaran. Sapi gemuk dan seekor domba. Dengan sapi, tentu ia akan mencarikan makan untuknya. Sementara domba bisa mencari makan sendiri. Maka dapatlah ia domba.

Perjalanan pun dilanjutkan. Kali ini, ia bertemu dengan seseorang yang sedang mengepit seekor angsa yang sangar besar dan gemuk. Pikirnya, angsa yang gemuk banyak lemaknya. Ia pernah melihat angsa berenang di empangnya. Lagi pula, sudah lama istrinya ingin memelihara angsa. Tentu istrinya akan senang karena keinginannya memelihara angsa dapat terwujud. Pertukaran pun dimulai. Mereka saling menyepakati dan membawa hewan pertukaran itu.

Sampailah ia di kota. Kota yang sesak dan padat oleh manusia dan hewan. Ia lalu melihat seseorang menunggui ayamnya yang diikat. Ayam itu gemuk dan merupakan jenis ayam petelur. Telur akan membawa banyak keuntungan. Selain bisa dikonsumsi sendiri, juga bisa dijual. Diutarakanlah maksudnya, bahwa ia ingin bertukar. Angsa dengan ayam. Sepakat. Keduanya bertukar. Ia merasa puas.

Kehidupan kota membuatnya penat. Ia pun ingin melepas lelah dengan sebuah minuman di kedai. Tetapi baru sampai ke ambang pintu, keluarlah pemilik kedai itu membawa karung yang penuh dengan apel busuk. Maka muncullah akalnya.

“Ha, itulah yang kucari, kawan. Betapa senangnya kalau istriku melihatnya. Tahun lalu aku hanya mendapat sebuah apel dan itu disimpan oleh istriku dipeti pakaiannya supaya kering. “Mempunyai apel kering adalah tanda kalau kita berpunya,” kata istriku. Dan ini, sekarung apel, ck-ck-ck-ck… luar biasa.” Sekarung apel busuk ditukar dengan ayam petelur.

Dengan membawa sekarung apel, masuklah ia ke kedai itu. Di sana banyak orang, heran melihat suami. Lalu salah seorang bertanya kenapa ia membawa banyak apel busuk. Ia pun tak keberatan menceritakan dari awal. Namun yang terjadi adalah ia ditertawakan semua orang. Ada yang berkomentar bahwa ia akan dimarahi oleh istrinya. Lainnya mengatakan, ia akan bertengkar dengan istrinya begitu sampai rumah.

“Bertengkar? Tidak, aku malah dipujinya. Tentu.”

Para lelaki di kedai itu kemudian saling bertaruh.

“Berani bertaruh? Kalau istrimu tidak marah, kau akan mendapat seratus uang emas. Tetapi kalau ia marah, apa yang kau pertaruhkan?”

“Sepanci apel. Itupun tentu harus kutambahkan sebuah yang disimpan oleh istriku.”

Sepakat! Semua ikut bertaruh. Entah nanti apel busuk akan dibagi rata atau bagaimana. Yang jelas, para lelaki itu hanya akan mengerjai suami.

Sampai di rumah, disabutlah suami oleh istrinya dengan riang.

“Aku telah menjalankan tugasmu. Kuda itu sudah aku tukar.”

“Ah, ah, bagus, bagus. Memang Ayah selalu cerdik.”

Aku tukar kuda dengan sapi. Jawab istri, “Ah, bagus sekali, jadi kita mempunyai susu. Sekarang kita dapat makan dodol, dan mempunyai mentega serta keju.”

Aku tukar dengan seekor domba. Jawab istri, “Itu lebih baik. Kau senantiasa panjang akal. Untuk domba, rumput kita sudah cukup. Dan sekarang kita akan mempunyai susu domba, mentega domba dan keju domba. Dan kaus wol, selimut wol, siapa tahu. Sapi tidak bisa begitu, rambut bulunya tidak ada gunanya. Sungguh kau sangat pintar.”

Tetapi aku tukar dengan angsa. Jawab Istri, “Nah, kita akan mempunyai angsa, Ayah, untuk pesta bulan Maret. Angsa itu akan aku ikat supaya gemuk, dan nanti pada pesta bulan Maret kita akan dapat makan angsa goreng yang lezat. Kau senantiasa ingat akan kesenanganku, Ayah.”

Tetapi, tetapi, tetapi… angsa itu aku tukar lagi dengan ayam. Jawab istri, ““Dengan ayam? Itulah yang setepat-tepatnya. Ayam itu akan bertelur, akan dieraminya, dan kita mempunyai banyak anak ayam, dan peternakan yang besar. Itulah yang sudah lama aku impikan.”

Tetapi, tetapi… ayam itu aku tukar dengan sekarung apel. Jawab istri, “Nah, sekarang aku mesti berterima kasih benar-benar kepadamu, aku mesti memujimu. Coba dengarkan ceritraku. Ketika kau pergi tadi pagi, ingin sekali aku membuat lauk yang lezat untukmu, kuih dadar telur dengan daun bawang. Tetapi daun bawang aku tidak punya, pak guru menanam daun bawang di rumahnya, nah datanglah aku ke sana untuk memintanya. Sayang sekali, isterinya amat pelitnya. Nah, sekarang kita punya apel busuk, tidak sebuah dua, tetapi sekarung. Aku akan pergi ke rumah pak guru dan memberi istrinya barang lima buah dari apel ini.

Melihat respon istri, orang-orang yang bertaruh kemudian berkata, “Istri yang bijak dan baik hati ini lebih berharga dari berkarung-karung emas. Kesulitan-kesulitan hidup menumpuk, tetapi ibu ini selalu besar hati.”

Dan suami pun menanglah, ia mendapat seratus uang mas.